Home » , , » 8 Sikap harus Dilakukan Ketika Mengaku Umat Muhammad

8 Sikap harus Dilakukan Ketika Mengaku Umat Muhammad


Setelah kita menjalankan syahadat laa ilaaha illallahu ,maka kita juga mesti menjalankan konsukuensi muhammad rasulullah. Muslim sejati akan berusaha maksimal menjalankan persaksian muhammad rasulullah. Inilah sikap yang mesti dimiliki oleh tiap muslim yang mengaku umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena bagaimana akan disebut muslim umat Muhammad jikalau apa yang diperintahkan Nabi tidak dilakukan. Nauzubillah min dzalik..

Apa itu makna syahadat Muhammadar rasulullah ? Arti dari syahadat muhammadar rasulullah ialah ikrar dengan ucapan dan meyakini dengan hati bahwasanyya Muhammad bib Abdillah al-Hasyimi al-Quraisy sebagai hamba Allah dan utusan yang Allah utusan kepada seluruh mahluk baik jin maupun manusia. Seorang muslim dalam syahadat muhammadar rasullah mesti menjalani kriteria penjelasan di atas. Jin dan manusia sama-sama dituntut untuk meyakini pengertian di atas jikalau ingin disebut muslim. Karena ada orang yang tidak mengakui bahwa Muhammad utusan Allah seperti yang dilakukan oleh petinggi kafir Quraisy seperti Abu Jahal dan Abu Lahab. Tidak mengakui Muhammad sebagai rasul karena terjangkit penyakit sombong suka meremehlkan orang lain. 

Ada 8 konsukuensi seseorang yang telah mengucapkan muhammad rusullah , yaitu :

1.Mentaati apa yang diperintahka Nabi
Mentaati Nabi merupakan salah satu yang harus dilakukan setelah bersyahadat muhammadar rasulullah. Ketaatan kita kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam telah dinyatakan dalam Alquran :

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنتُمْ تَسْمَعُونَ ﴾ [الأنفال: 20]. 
" Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan rasuluNya dan janganlah berpaling darinya sedangkan kalian mendengar (perintah-perintahNya) ". QS.al-Anfal ayat 20. Ada juga ayat lain yang mewajibkan kita mesti melaksanakan perintah Nabi dan menjauhi larangannya seperti pada surat al-Hasyr ayat 7 yang artinya :
" Apa yang dibawa oleh rasul maka ambillah dan apa yang dilarangnya maka jauhilah ". Untuk mentaati apa yang disammpaikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerlukan usaha. Tidak semua orang yang mengaku muslim bisa mentaati rasul karena masih dalam hatinya penyakit seperti penyakit nifak yang dimiliki oleh orang munafik. Ia menampakan keislamannya di depan kaum muslimin dengan cara mengaku dirinya muslim namun menyembunyikan perihal buruk dalam batinnya. Hanya muslim yang benar-benar tulis hatinya bisa mentaati perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Mengapa masih ada orang muslim yang enggan mentaati Rasulullah? Seperti ia dengan terang-terangan melakukan dosa dan maksiat. Muslimah tapi tidak berpakaian syar'i, suka mencela muslim lain, tidak shalat berjamaah di masjid, tidak berpuasa dan pelanggaran lain yang menyelisihi perintah Nabinya. Itu semua bisa terjadi pada orang yang dalam hatinya ada penyakit sehingga dikhawatirkan terjangkit penyakit orang munafik. Perlu diketahui bahwa orang munafik akan diletakkan di dasar neraka. Mestinya kita sadar mengapa harus mentaati Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam segala bidang tanpa membantah atau tanpa perlu bertanya terlebih dahulu seperti pertanyaan :untuk apa ada perintah shalat dan sebagainya. Mentaati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah kunci kesuksesan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dengan mentaati maka ketakwaan kita akan meningkat sehingga sangat mudah bagi kita memperoleh rizki yang tidam disangka-sangka sebagaimana janji Allah dalam sebagian ayatNya.


2.Membenarkan apa yang diucapkan Nabi
Salah satu konsukuensi berikutnya ialah membenarkan apa yang diucapkan Nabi. Membenarkan ucapannya yang tidak masuk akal sepertinya berat untuk bisa dipercaya. Contoh kasus terjadinya isra dan mi'raj yang hanya menempuh waktu semalam bisa menembus tempat sianggasana Allah azza wa jalla. Saat Nabi memberitakan perihal kejadian perjalanan dalam semalam kepada orang-orang kafir Quraisy lantas diantara mereka menolaknya dan membantahnya secara membabi buta. Ini juga menjadi goyonan dan bahan tertawaan bagi orang munafik yang mendengar langsung ucapan Nabi pada saat itu juga. Inilah sebuah konsukuensi bagi keimanan seseorang yang bersyahadat muhammad rasullah. Seharusnya setingkat Nabi yang dijuluki al-amin orang yang terpercaya di mata masyarakat arab jahiliyyah harusnya mereka juga percaya kepada Nabi saat memberitahukan kejadian isra mi'raj. Pada kejadian ini juga kaum muslimin saat itu di uji juga apakah mereka bertambah imannya atau kembali menjadi orang kafir karena terlihat tidak masuk akal bagi mereka. Bagaimana dengan kita yang telah ditampakkan berbagai perintah-perintahnya di dalam kitab-kitab hadits shahih Bukhari,Muslim, Abu Dawud, an-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad dan kitab hadits lainnya.

3.Menjauhi segala larangan Nabi
Ini konsukuensi selanjutnya bagi yang bersyahadat muhammadar rasulullah yaitu menjauhi segala larangan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Tiap larangan akan berhadapan dengan hawa nafsu tiap individu manusia. Apakah ia mengikuti nafsunya maka sudah pasti akan melakukan larangan Nabi. Tetapi jika ia mengikuti wahyu maka ia pasti meninggalkan larangan Nabi. Kethuilah wahai kaum muslimin, sesungguhnya nabi kita telah berpesan dalam haditsnya :

 كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلا مَنْ أَبَى " . قَالُوا : وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : " مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِي 
فَقَدْ أَبَى " 

" Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan, mereka bertanya : ' Siapakah yang enggan itu ?, ia bersabda : ' Orang yang mentaatiku akan masuk Surga dan orang yang bermaksiat kepadaku sungguh ia telah enggan'. HR. Bukhari no 7280 dan Ahmad no 8728. Hadits ini dengan terang benderang mengancam bagi siapa saja yang melakukan larangan Nabi akan dijerumuskan ke dalam api neraka, jauh dari Surga. Ini bukan hal mustahil bagi siapa saja yang hobinya mengerjakan larangan Nabi. Perhatikanlah bahwa tiap larangan Nabi itu mengandung bahaya yang sangat besar bagi kita, keluarga , masyarakat dan negara pada umumnya. Tiap larangan yang dikerjakan oleh tiap individu akan langsung mempengaruhi kejiwaannya. Jiwanya berkembang secara tidak normal, maka dengan ringannya ia membuka dosa-dosa berikutnya. Apalagi dosa dan kesalahan ia jadikan sebagai menu utama sehari-hari, baik dosa dari penglihatannya yang tidak dijaga, lisan yang selalu mengghibah orang lain, mencela, meremehkan atau dosa dari tangannya suka mengambil hak orang lain, atau dosa dari kaki yang suka pergi ke tempat-tempat yang Allah murkai. Tempat disana berbaurnya laki-laki dan perempuan secara bebas, disana banyak tempat orang bermaksiat seperti tempat atau lokasi perzinaan yang dijadikan ajang berpacaran. Maka jauhilah larangan Nabi dengan usaha keras, maka kita akan selamat di dunia dan di akhirat.


4.Beribadah kepada Allah seperti yang diajarkan Nabi
Salah satu konsukuensi berikutnya ialah kita mesti beribadah kepada Allah sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi. Ibadah lisan dan badan mestinya mengikuti ajaran nabi kita, bukan malah menambah atau mengurangi caranya. Dengan berbagai alasan yang menjadikan syariat ini tidak sempurna lagi karena adanya penambahan dan pengurangan tata cara beribadah dari umatnya. Ketahuilah bahwa Islam ini telah sempurna dan kita semua dicukupkan nikmatnya oleh Allah ta'ala sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat al-Maidah ayat 3 yang artinya :
" Hari ini Aku sempurnakan agamamu bagi kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmatKu dan Aku meridhai Islam sebagai agama bagi kalian ". Inilah sebuah alasan kenapa kita mesti mengerjakan ibadah di Islam ini yang sudah ada di masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dari semua bentuk ibadah seperti shalat, zakat, puasa, haji, menuntut ilmu, mencari nafkah, bertasbih , berzikir, membaca al-quran dan lain-lain semua itu mesti merujuk kepada aturan dan tata cara Nabi dalam mengerjakan amalan di atas. Ada dua syarat ibadah itu akan diterima oleh Allah ta'ala :

  1. Ibadah harus dikerjakan dengan ikhlas karena Allah  ta'ala bukan karena manusia.
  2. Ibadah harus dikerjakan sesuai cara ibadah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
Mengapa ibadah harus di niatkan karena Allah ? karena ibadah itu hak milik Allah ta'ala bukan milik selainNya. Dan jika dilakukan atas dasar dororangan manusia bukan atas dasar ikhlas karena Allah , maka amalan tersebut disebut kesyirikan. Dan segala bentuk syirik tidak akan diampuni oleh Allah ta'ala. Perhatikanlah, bahwa tiap amalan yang dikerjakan karena Allah akan berbuah ketenangan dan kenikmatan hati yang tiada tara. Namun jika amalan yang dibuat karena manusia, maka akan berbuah kepada kekecewaan di saat manusia tidak menyanjungnya atau memujinya. 

5.Mencintai Nabi
Saat kita bersyahadat muhammadar rasulullah, maka kita diwajibkan mencintai Nabi dari segala yang kita miliki. Cintanya kita kepada Nabi harus melebihi cintanya kepada orang tua, anak, istri dan manusia semuanya. Inilah cinta yang hakiki yang harus dimiliki oleh tiap muslim yang mengaku umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Ini semua atas perintah Nabi dalam sabdanya :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : " فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

" Dari Abu Hurairah semoga Allah meridhainya bahwasannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : Demi jiwa yang berada dalam genggamannya ,tidaklah salah satu kalian beriman hingga aku lebih dicintainya dari pada orang tua dan anaknya ". HR. Bukhari no 14.
Dan salah satu bukti mencintai Nabi ialah meniru gaya hidup perilaku Nabi bukan sekedar mengingat jasanya dalam islam, tapi harus berusaha mengikuti jalan hidup Nabi dalam segala lini kehidupan. Bukti seseorang mencintai nabi yang lain ialah apabila diajak kepada ketaatan atas perintah nabi, maka langsung disegerakan tidak malah menunda atau membantah sabdanya. 

6.Bersalawat kepada Nabi
Bersalawat tentunya sesuai aturan Nabi bukan membuat lafadz shalawat sendiri. Nabi sendiri telah berpesan dalam sabdanya saat ditanya bagaimana shalawat di luar shalat, maka beliaupun menjawab bahwa shalawatnya sama seperti dalam shalat. Ini menandakan shalawat kepada nabi hanya terbatas pada lafadz shalawat di dalam shalat saja. Walaupun kita bisa membuat shalawat sendiri dengan bahasa arab, namun hal itu tidak dianjurkan Nabi saat bersalawat. Beliau hanya mengutarakan tata cara shalawat seperti yang ada dalam shalat. Dalam perkara ini kita harus menunjukan ketaatan kepada Nabi dari apa yang disabdakannya, tanpa bertanya kenapa lafadznya pendek tidak panjang. Atau menambah lafdz sendiri dalam bersalawat dengan alasan makin panjang shalawatnya maka makin banyak pahalanya. Perintah bershalawat sudah dijelaskan oleh Allah dalam surat al-Ahzab : 56 yaitu

إِنَّ اللَّهَ وَمَلٰٓئِكَتَهُ ۥ  يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِىِّ  ۚ  يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."
Ini sebuah perintah dari Allah ta'ala yang mestinya kita lakukan sebagai bukti mencintai Allah ta'ala dan RasulNya. Adapun lafadz shalawat yang berasal dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bermacam jenisnya :
Riwayat Abu Humaid semoga Allah meridhainya , ia menceritakan ada orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang bagaimana bershalawat kepada beliau, beliau menjawab :
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

HR. Bukhari no 3369
Lafadz lain bersumber dari sahabat Abu Mas'ud al-Anshari semoga Allah meridhainya :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

HR. Muslim no 405.
Inilah sebagian lafadz shalawat yang diajarkan Nabi kita kepada para sahabatnya saat bertanya kepada beliau perihal bershalawat. Dengan jawaban tersebut para sahabatpun menggunakannya tiap kali bershalawat. Dan tidak ada yang kami dapati lafadz lain hasil dari buatan shahabat. Hingga kini belum ada riwayat yang tertulis oleh oleh ulama hadits dalam kitab mereka yang menyatakan ada sahabat Nabi yang menambah lafadz shalawat lain.

7.Berhukum dengan hukum Nabi
Salah satu konsukeunasi dari kalimat muhammadar rasulullah ialah wajibnya mengikuti hukum atau ketetapan atau keputusan dan meridhai terhadap keputusannya. Allah menegaskan pada ayatnya :
Allah SWT berfirman:

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِى الْأَمْرِ مِنْكُمْ  ۖ  فَإِنْ تَنٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْأَاخِرِ  ۚ  ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 59)
"Apabila kalian berselisih dalam sebuah perkara, maka kembalikan kepada Allah dan rasul apabila kalian mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, itulah pilihan yang terbaik dan penjelasan yang lugas". Dan pada ayat ditegaskan pula : 
Allah ta'ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتّٰى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِىٓ أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

" Maka demi tuhanmu, mereka tidak akan beriman hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim diantara mereka dalam perkara yang mereka perselisihkan,kemudian tidak ada rasa berat dari apa yang kamu putuskan dan mereka menerima dengan sepenuhnya" QS. an-Nisa : 65.

8.Menempatkan Nabi sesuai kadarnya, tidak bersikap berlebihan dan tidak pula meremehkannya
Inilah yang perlu diperhatikan bagi umatnya setelah menyatakan syahadat Muhammad rasulullah yaitu bersikap adil dalam menyikapi Nabi dengan tidak bertindak berlebih-lebihan kepadanya dan tidak pula meremehkannya. Beliau hanyalah seorang hamba Allah dan utusanNya. Beliau nabi yang paling utama dari nabi lainnya, dialah nabi penghulu nabi pertama dan terakhir. Dialah pemilik tempat terpuji dan pemilik telaga. Walaupun itu semua beliau miliki namun tetap saja beliau adalah manusia yang tidak memiliki dirinya sendiri dan tidak pula menguasai orang lain dalam memberi manfaat atau memberi mudharat melainkan yang sudah Allah kehendaki saja akan terjadi.
Allah SWT berfirman:

قُل لَّآ أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِى خَزَآئِنُ اللَّهِ وَلَآ أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَآ أَقُولُ لَكُمْ إِنِّى مَلَكٌ  ۖ  إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحٰىٓ إِلَىَّ  ۚ  قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الْأَعْمٰى وَالْبَصِيرُ  ۚ  أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
"Katakanlah (Muhammad), Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah, Apakah sama antara orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?"
(QS. Al-An'am 6: Ayat 50)

Sumber :
 http://quran-id.com









Thanks for reading & sharing Sajian Guru Blogger

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa tinggalin komentar terbaik Anda^_^

Cari Info

Ikuti Info Terbaru

Powered by Blogger.
  • ()
  • ()
Show more

Labels

Total Tayangan

Post Populer

Ikuti Blog Ini