Hujan, Nikmat ataukah Azab


Hujan sudah beberapa hari di Indonesia belum juga reda dan belum juga nampak cahaya Matahari. Kami yang ada di Aceh yang berada di penghujung peta  seperti Anda juga terkena dampak hujan hingga hari ini. Dari pantauan kita baca berita akan banyak kejadian kebanjiran dan tanah longsor disebabkan volume air yang banyak sehingga mengikis tanah sehingga terjadi longsor. Bagi kita yang yang belum terkena dampak hujan selang beberapa hari lalu hendaknya banyak bersyukur. Dan bagi teman-teman yang sedang terkena dampak hujan seperti longsor dan banjir maka hendaklah bersabar dan terus-menerus meminta pahala atas apa yang menimpanya. Satu sikap terbaik yang didahulukan saat seorang muslim tertimpa musibah apapun baik banjir, tanah longsor , kebakaran , hilang harta, anak jatuh sakit, kecelakaan dan sebagainya hendaknya mengucapkan kalimat istirja' : INNALILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJIUN. ( Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali semua kepadaNya ).


Kita cuma berharap hujan yang menimpa kita ini bukanlah azab tapi kasih sayang Allah untuk orang Indonesia. Walaupun jemuran kita semua belum kunjung semua KERING, he he. Tapi gak pa2 lah.. Yang penting kita masih bersyukur dengan apa yang Allah berikan walaupun dibilang sedikit oleh hitungan manusia.

Sekali lagi hujan itu juga pemberian Allah walaupun untuk beberapa kalangan ada yang tidak ingin hujan karena situasi dan kondisi manusia yang berbeda. Ada yang suka turunnya hujan dan ada yang tidak. Dalam Islam telah diajarkan jika hujan yang terus-menerus itu memungkinkan akan merusak tanaman dan menghancurkan fasilitas yang dimiliki oleh manusia seperti jalan menjadi rusak, bangunan menjadi roboh dan sebagainya maka dianjurkan berdoa seperti apa yang dipanjatkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ,yaitu :


اللهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا , اللهُمَّ عَلىَ الاَكَامِ وَ الْجِبَالِ وَالاَجامِ وَ الظِّرَابِ وَالأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ



" Allahumma hawa laynaa, wa laa alainaa, allahumma alal aakam, wal jibaal, wal ajaam wad dhirob wal adwiyah wa manaabitisy syajar "
Artinya : " Ya Allah turunkanlah hujan di sekitaran kami bukan merusak  kami, Ya Allah turunkanlah hujannya kedaratan tinggi , gunung-gunung, bukit-bukit , perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan " HR.Bukhari no 1014. 

Doa tersebut pernah dipanjatkan oleh baginda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam saat ada seseorang yang mengeluhkan kekeringan sehingga terputus jalan-jalan dan jalan setapak. Ketika orang tersebut meminta kepada beliau shallallahu 'alaihi wa sallam saat belau sedang khutbah, ia memintanya berdoa agar diturunkan hujan maka beliau segera berdoa meminta kepada Allah azza wa jalla diturunkan hujan kepada mereka dengan mengucapakan :

اللهُمَّ اسْقِنَا , اللهُمَّ اسقِنَا , اللهُمَّ اسْقِنَا


Anas pun seketika itu berkata : Demi Allah, tidaklah kami melihat awan di langit maupun mendung atau apapun, tidak juga tanda apapun, Anas berkata : Lalu muncullah awan seperti tameng , saat langit awan tersebut berkumpul dan menyebar lalu turunlah hujan , demi Allah selama 6 har kami tidak melihat matahari dan hujan turun selalu. Lelaki tersebut masuk kembali pada jumat berikutnya sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berkhutbah , ia menghadnya ke kiblat , lantas iapun berkata : Wahai Rasulullah , harta banyak rusak, jalan-jalan terputus, maka berdoalah meminta kepada Allah agar menahan/menghentikan, Anas berkata lagi : Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa " " Allahumma hawa laynaa, wa laa alainaa, allahumma alal aakam, wal jibaal, wal ajaam wad dhirob wal adwiyah wa manaabitisy syajar ". Seketika itu hujanpun langsung reda dan kami pun berjalan bernaung dengan matahari.

Menghadapi hujan setiap orang akan berbeda cara menyikapinya, maka sebaiknya apapun hujan lebat maupun gerimis hendaknya kita hadapi dengan lapang dada atas takdir yang diberikan Allah kepada kita. Jauhilah sikap mengeluh dengan hujan atau mencela hujan. Karena sikap tersebut dilarang oleh Nabi kita. Adapun larangan mencela hujan ada riwayat dari Nabi :

   , قَالَ اللهُ تَعَالَى : يُؤْذِيْنِيْ ابْنُ اَدَمَ , يَسُبُّ الدَّهْرَ وَ أَنَا الدَّهْرُ , بِيَدِيْ الأَمرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَ النَّهَارَ

" Allah berfiman : " Manusia telah menyakiti Aku, dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku pemilik dan pengatur masa, Akulah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti " HR. Bukhari no 4826. Demikian juga kitaa dilarang mencela angin sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :

لاَ تَسُبُّوْا الرِّيْحَ

" Janganlah kalian mencela angin ". HR. (Tirmidzi no 2252 dari Ubai bin Ka'ab dan hadits ini shahih yang dikatakan oleh syekh al-Albany ). Dalam pesan yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saat kita menghadapi yang kita tidak suka dengan mengucapkan :

اللهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِه الرِّيْحِ وَخَيْرِ مَا فِيْهَا وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ بِهِ وَ نَعُوْذُبِكَ مِنْ شََرِّ هَذِهِ الرِّيْحِ وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ

Allahumma inni as'aluka min khoiri hadihir riihi wa khoiri ma fiiha wa khairi maa umirot bih , wa nuudzu bika min syarri hadihir riihi wa syarrimaa fiiha wa syarri maa umirot bihi " Ya Allah, sessungguhnya aku meminta kepadaMu kebaikan dari tiupan angin ini dan kebaikan apa yang di dalamnya, dan kebaikan apa yang dibawanya dan kami minta berlindung kepadaMu dari keburukan tiupan angin ini dan keburukan di dalamnya dan keburukan apa yang dibawanya ".

Inilah kalimat yang kita panjatkan saat terjadi angin kencang yang kita tidak sukai atas kedatangannya, bukan malah mencelanya. Karena mencela masa dianggap menyakiti Allah Tuhan Semesta alam. Sungguh luar biasa, kita akan disebut manusia yang tidak bersyukur jika mencela masa yang sudah menjadi milikNya. Hendaknya kita semua menyerahkan segala urusan kita kepada Allah azza wa jalla. Kita sebagai mahluk bukan tuhan sudah pantas untuk tunduk pada takdir yang dibuatNya. 

Ingatlaha segala ucapan akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak, walapun kalimat yang keluar dari mulut berupa candaan. Dalam perkara lisan ini Nabi kita sudah mewanti-wanti bahayanya sebuah lisan yang tidak dijaga dengan baik, beliau bersabda yang artinya :

" Seseungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam Jahannam " ( HR. Bukhari no 6478 dari Abu Hurairah ).

Kesimpulan :
Dari sekian hadits di atas, hendaknya kita tetap berada di jalan yang Allah ridhai agar kita kelak mendapat balasan yang setimpal atas apa yang kita lakukan dengan bersabar dan rela terhadap semua takdir dan keputusan Allah azza wa jalla. Bersabar dan menerima kenyataan walaupun pahit adalah solusi tepat saat menghadapi cobaan. Dari sekian banyak Allah memberi kenikmatan kepada kita yang tidak bisa dihitung, maka pantaskan kita mencela masa/hujan/angin gara-gara ditimpa dalam beberapa hari...Tentunya tidak, ingatlah pemberian Allah yang begitu banyakkkkkk tak kunjung habis, hingga sekarang ini. Kita masih bernafas, menghirup udara segar, mendapati air melimpah, kaki tangan masih utuh mata masih bagus , pendengaran masih baik dan sebagainya...Pantaskan kita mencela hujan ataupun angin....

Thanks for reading & sharing Sajian Guru Blogger

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa tinggalin komentar terbaik Anda^_^

Cari Info

Ikuti Info Terbaru

Powered by Blogger.
  • ()
  • ()
Show more

Labels

Total Tayangan

Post Populer

Ikuti Blog Ini