Home » , , » Jangan Pernah Lagi Menggambar Yang Bernyawa

Jangan Pernah Lagi Menggambar Yang Bernyawa


Menggambar salah satu bentuk kreativitas manusia. Banyak orang yang suka menggambar. Dahulu masa kita kecil sering digemari dengan menggambar. Acapkali ditawari sama guru untuk menggambar maka anak-anak sontak senang dan gembira. Karena memang jiwa anak-anak identik dengan gambar. 

Jadi menggambar sudah merupakan naluri manusia yang sudah ada sejak kecil. Islam datang membawa rahmat bagi umatnya. Tidak ada dalam ajaran islam soal perintah kecuali ada manfaatnya. Dan tidak ada dalam islam soal larangan melainkan ada bahayanya.

Islam sama sekali tidak jauh dengan karya seni. Terutama menggambar sesuatu. Islam agama erat hubungan dengan seni. Agama kita mengajarkan keindahan dalam tiap lini kehidupan. Agama islam mengajarkan umat agar hidup rapi dan bersih. Seni merupakan salah satu keindahan.

Walaupun tak ada larangan untuk menciptakan seni, namun islam juga tak luput dari aturan. Semua aturan yang diperuntukkan untuk kemaslahatan umatnya. Terutama dalam bidang seni. Islam memberi batasan sendiri tentang kreativitas manusia ini. Di dalam Islam aturan kesenian seperti menggambar sudah ada.

Maka seyogyanya Anda yang menganut agama Islam tentunya senang dengan ajaran Islam. Bagaimana Islam mengatur aspek menggambar ? Yuk kita lihat dasar pijakannya. Aturan menggambar tidak ada di dalam menggambar, namun ada di hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Tentu kita tahu ya..bahwa landasan aturan kita Alquran,hadits, ijma dan Qiyas yang shahih. 

Empat landasan di atas sudah dikenal sejak berabad-abad lamanya. Jadi kita hanya mengikut saja. Untuk lebih dalamnya soal ijma dan qiyas bisa Anda cari pengetahuannya di tempat lain. Atau bisa Anda cari di mesin google tentang dasar hukum islam. Walaupun al-Quran tidak mengatur tentang aktivitas menggambar, namun di hadits terdapat dasar pijakannya.

Apa saja landasan pemikiran tentang menggambar ?
Hukum menggambar secara umum :
Ada di sebuah hadits Nabi yang menyatakan bahwa semua orang yang menggambar akan ditempatkan di dalam Neraka. Haditsnya apa ? Telah diriwayatkan dari Said bin Abil Hasan :

عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي الْحَسَنِ ، قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ ، فَقَالَ : إِنِّي رَجُلٌ أُصَوِّرُ هَذِهِ الصُّوَرَ فَأَفْتِنِي فِيهَا. فَقَالَ لَهُ : ادْنُ مِنِّي. فَدَنَا مِنْهُ، ثُمَّ قَالَ : ادْنُ مِنِّي. فَدَنَا حَتَّى وَضَعَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ، قَالَ : أُنَبِّئُكَ بِمَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : " كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ يَجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُورَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ ". وَقَالَ : " إِنْ كُنْتَ لَا بُدَّ فَاعِلًا فَاصْنَعِ الشَّجَرَ وَمَا لَا نَفْسَ لَهُ 

Said bin Abil Hasan berkata : Ada seorang laki-laki datang kepada Ibnu Abbas, ia berkata : Sesungguhnya aku laki-lakinyang menggambar gambar ini ,maka berilah aku penjelasan tentang hukumnya. Ibnu Abbas berkata kepadanya : Mendekatlah kemari, iapun mendekatinya. Lalu Ibnu Abbas berkata lagi : Mendekatlah lagi, iapun mendekatinya hingga Ibnu Abbas meletakkan tangannya di atas kepalanya, Ibnu Abbas berkata : Aku akan kabarkan kepada Anda apa yang telah saya dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : " Setiap orang yang menggambar di dalam Neraka, ia membuat gambar yang mengandung nyawa, lalu gambar tersebut akan menyiksanya di Jahannam . Ibnu Abbas berkata kepadanya : Apabila Anda terpaksa menggambar, maka gambarlah pohon dan gambarlah benda yang tak mengandung nyawa. HR.Muslim no 2110 dana Ahmad no 2810.

Dari hadits di atas disimpulkan bahwa hukum menggambar dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :

1. Menggambar sesuatu yang tak bernyawa.

Menggambar tak bernyawa seperti menggambar pegunungan, sungai, matahari, bulan, pohon-pohon dan semakna dengan benda-benda tersebut. Pada jenis aktivitas menggambar ini dibolehkan menurut syar'i berdasarkan perkataan dari Ibnu Abbas di atas.

Ada sebagian ulama yang menyamaratakan hukumnya, tidak boleh menggambar apapun. Akan tetapi pendapat yang benar ialah pendapat bolehnya menggambar sesuatu yang tak bernyawa menurut kebanyakan ahli ilmi.

2. Menggambar sesuatu yang bernyawa.

Pada jenis ini ulama membagi menjadi dua macam yang berbeda hukumnya :

* Pertama : Menggambar langsung menggunakan tangan.
Menggambar yang bernyawa secara langsung dengan tangan dihukumi haram. Pada jenis yang pertama ini masuk kategori dosa besar. Ada penukilan tentangnya yang berisi ancaman keras. Seperti pada hadits-hadits berikut ini :
1. Hadits Ibnu Abbas telah disebutkan di atas.
2. Hadits Abi Juhaifah, yaitu :

عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّهُ اشْتَرَى غُلَامًا حَجَّامًا، فَقَالَ : إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الدَّمِ، وَثَمَنِ الْكَلْبِ، وَكَسْبِ الْبَغِيِّ، وَلَعَنَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ، وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَوَالْمُصَوِّرَ.

" Dari Aun bin Abi Juhaifah dari ayahnya bahwasannya ia membeli seorang tukang bekam, ia berkata : Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang jual beli darah, anjing, usaha pelacuran dan beliau melaknat pemakan riba, yang memberi riba, pembuat tato, yang minta ditato dan tukang gambar ". HR. Bukhari 5962.

3. Hadits Aisyah semoga Allah meridhainya :

عَنْ عَبْدِ اللهِ , قالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلى اللهُ علَيْهِ وَ سَلَّمَ إِنَّ أَشَ الناسِ عَذابًا يَوْمَ القِيَامَةِ الْمُصَوِّرُوْنَ

" Dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya manusia yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah para tukang gambar ". HR. Muslim no 2109, Bukhari no 5950, an-Nasai no 5364 dan Ahmad no 3558, no 4050. 

Pada hadits lain berbunyi : " Sesungguhnya manusia yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah orang-orang yang menggambar (menyerupai) bentuk ciptaan Allah ". HR. Muslim no 2107.

4. Hadits Abu Zur'ah
عَنْ أَبِيْ زُرْعَةَ , قالَ : دخَلْتُ مَعَ أبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : دَخَلتُ مَعَ أبِيْ هُرَيرَةَ في دارِ مَرْوَانَ , فَرَأى فِيْهَا تَصَاويرَ , فَقَالَ : سَمعْتُ رَسْولَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يقول : قال اللهُ عزَّو جلَّ : وَمنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذهَبَ يَحْلُقُ خْلقًا كَخَلْقِهِ فَلْيَخْلُقُوْا ذَرَّةً , أْوْ لِيَخْلُقُوا حَبَّة , أو لِيخْلُقُوا شَعِيْرَةً


" Dari Abu Zur'ah ia berkata : Aku masuk bersama Abu Hurairah ke dalam rumah Marwan, iapun melihat banyak gambar-gambar di dalamnya, ia berkata : Aku telah mendengar Rasulullallahu 'alaihi wa sallam bersabda : " Allah berfirman ' Siapakah orang yang paling zalim selain orang-orang suka membuat ciptaan seperti ciptaanKu, maka hendaklah mereka membuat bentuk biji zarrah, biji gandum dan biji syairoh " HR. Muslim no 2111.

5. Hadits Abdullah bin Umar
أَنَّ عَبْدَ اللهِ بن عُمَرَ رَضي اللهُ عَنهُمَا أَخْبَرَهُ , أَنَّ رَسُوْ لَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قال : " إنَّ الّذِيْنَ يَصْنَعُوْنَ هذه الصُّوَرَ يُعَذَّبُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَة , يُقَالُ لَهُمْ : أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

" Bahwasannya Abdullah bin Umar semoga Allah meridhai keduanya telah mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : " Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar-gambar ini akan diazab pada hari kiamat, dikatakan kepada mereka (tukang gambar) : Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan ". HR. Bukhari no 5951.

Gambar-gambar (ciptaan) yang dimaksudkan pada hadits di atas ialah gambar dari usaha tangan. Yaitu seseorang menggores gambar dengan tangannya hingga sempurna. Sehingga gambarnya mirip yang Allah ta'ala ciptakan. Dengan sebab ia membuat hal baru yang menyerupai dengan penciptaan Allah ta'ala. Sekalipun ia tak bermaksud menyerupainya.

Hukum di atas jika sifatnya berhubungan, maka tetap demikian. Selama ada sifat yang menandainya, maka hukum juga berlaku. Artinya setiap tukang gambar yang menggambar , maka terjadi penyerupaan atas usahnya. Meskipun ia tak bermaksud menyerupai ciptaan Allah. Karena secara umum tukang gambar berniat menyerupai ciptaan.

Kita akan dapati orang yang menggambar merasa bangga dengan karyanya. Itu terjadi bila karya yang dibuatnya lebih baik dan lebih menarik. Dari sini hilangnya sebuah alasan bahwa apa yang ia buat tidak dalam rangka menyerupai ciptaan Allah. Hukum sendiri berlaku bagi siapapun yang menggambar sudah dianggap menyerupai ciptaan Allah.

Maka disimpulkan oleh siapapun Anda akan mengatakan bahwa orang menyerupai pekerjaan orang lain akan disebut telah menyerupai pekerjaannya. 

Bagian ke-2. Gambar benyawa hasil jepretan kamera tanpa menggunakan tangan. Pada perkara prosesnya berupa pemindahan pada gambar seperti apa yang diciptakan Allah. Pengambilan gambar yang bernyawa dengan kamera tanpa menggunakan tangan secara langsung. Gambar tersebut tercetak di atas kertas. 

Kejadian dan proses munculnya gambar dengan kamera menjadi perbincangan di kalangan ulama. Dan menjadi salah satu ijtihad mereka. Fenomena ini tidak dikenal pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, khalifah dan salafus shalih. 

Perkara ini para ulama muta'akhirin berbeda pendapat dalam menyikapi fenomena ini. Diantara mereka ada yang melaranganya. Dengan artian masuk dalam larangan keumuman lafadz. Dan diantara mereka ada yang membolehkan secara makna.

Pengambilan gambar dengan kamera bukanlah pekerjaan yang menyerupai ciptaan Allah. Akan tetapi itu hasil dari cetakan gambar bentuk ciptaan Allah. Dengan bentuk yang sama seperti Allah ciptakan. Dan yang semisal dengannya adalah pengambilan gambar obligasi dan dokumen dengan alat fotografi.

Saat Anda cetak sukuknya, maka akan keluar gambar yang bukan hasil tulisanmu. Tapi itu semua dikerjakan oleh alat tersebut yang tercetak di atas kertas dengan perantara alat tersebut. Pada bagian ini yaitu gambar yang bukan langsung dari rekayasanya. Dan apa yang Allah ciptakan berupa kedua mata, hidung, dua bibir, dada, kedu kaki dan selainnya bukanlah hasil tangannya. Gambar yang berisi kedu mata, tangan, dan kaki bukanlah hasil goresan tangan. 

Namun prosesnya berupa pemindahan bentuk.  Bahkan alat tersebut yang memindahkan seperi apa yang Allah ciptakan. Dan orang yang berpendapat tentang pengambilan gambar dengan kamera tidak masuk pada lafdz hadits. Sebagaimana tidak masuknya secara makna. 

Dikatakan di dalam kamus bahwa gambar itu sebuah bentuk. Dan menggembar sesuatu maknanya memotong dan membagi-bagi. Mereka mengatakan bahwa pengambilan gambar dengan kamera bukan membentuk atau membagi-bagi. Akan tetapi hasil pemindahan bentuk dan pemisahan bentuk. 

Dan asal hukum pekerjaan yang tidak termasuk dalam kategori ibadah adalah halal. Melainkan ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Sebagaimana dikatakan : Hukum asal segala sesuatu adalah halal dan hukum asal segala ibadah adalah haram melainkan ada izin syariat. Apabila ada hukum yang mengandung keraguan maka kembalikan saja ke hukum asal pada kedua jenis tersebut dan ikutilah hukum asalnya.

Adapun pendapat keharaman gambar dari pengambilan kamera lebih kehati-hatian. Dan pendapat tentang halalnya gambar dari hasil kamera lebih solid. Akan tetapi pendapat kehalalan gambar darinya disyaratkan tidak mengandung unsur keharaman seperti gambar perempuan yang bukan mahramnya. Atau unsur keharaman lainnya seperti pengambilan gambar laki-laki agar ditempel di kamarnya dengan tujuan selalu mengingatnya. Atau juga untuk koleksi seperti yang disimpan dalam sebuah album dengan maksud menikmati wajahnya.

Semua kategori unsur tersebut dilarang karena sudah disebut membuat gambar dan menghasilkannya yang bukan pada karirnya adalah haram menurut kebanyakan ahli ilmu. Sebagaimana tidak adanya perbedaan hukum menggambar yang mengandung bayangan tubuh dan tidak mengandung bayangan berdasarkan keumuman dalil dan tidak adanya pengkhususannya. 

Demikian juga tak ada perbedaan gambar mainan yang digambar di atas papan tulis dalam rangka memberi pemahaman kepada para siswa. Sebagaimana anggapan mereka tentang tujuan gambar tersebut dibuat di papan tulis. Maka semua itu tidak dibolehkan bagi seorang guru menggambar gambar manusia atau hewan di atasnya. 

Namun jika kebutuhan tersebut harus dilakukan, maka gambarnya tidak penuh dengan tubuh yang terbagi-bagi. Contohnya kepala digambar tersendiri, kaki digambar terpisah dari badan, dan bagian tubuh lainnya seperti itu. Kemudian jelaskanlah sesuai kebutuhan dari gambar tersebut. Lalu segera dihapus kembali, lalu menggambar tangan sendiri lalu dijelaskan dan dihapus kembali setelah cukup penjelasannya. Demikianlah seterusnya pada anggota tubuh lainnya. Ini tidak masalah.

Adapun bagi guru yang diminta untuk gembar yang bernyawa untuk gambar soal ujian, maka gambarlah pohon, tali atau sungai. Karena tidak ada ketaatan kepada manusia dalam rangka bermaksiat kepada Allah. Walapupun perkara itu jarang terjadi pada mereka pembuat soal ujian. Adapun menyaksikan gambar di koran-koran, mushaf dan televisi. Jika bukan gambar manusia maka tidak mengapa melihatnya. 

Akan tetapi tidak mengkhususkannya karena gambar ini jika gambarnya manusia. Maka jika menyaksikannya sambil menikmatinya dengan memandangnya maka ini diharamkan. Dan jika saat menyaksikannya bukan menikmatinya dan tidak pula gemetar hatinya dan bukan pula dengan syahwatnya , maka itu dihalalkan baginya. Adapun memandangnya saat nadhar dihalalkan bagi seorang laki-laki melihat wanita, wanita memandang laki-laki  menurut pendapat yang kuat dengan syarat tidak mengkhususkan gambar ini. 

Adapun pandangan laki-laki terhadap gambar wanita yang bukan mahramnya, maka pada perkara ini ada keragu-raguan. Dan yang lebih berhati-hati ialah tidak melihatnya karena takut ada fitnah. Di dalam shahih Bukhari dari Abdullah bin Mas'ud semoga Allah meridhainya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :


لاَ تُبَاشِرْ الْمَرْأَة المَرْأَةَ فَتَنْعَتَهَا لِزَوْجِهَا كَأنَّهُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا

" Janganlah seorang wanita berteman dengan wanita lain, lalu ia mengabarkan sifat-sifatnya kepada suaminya, hingga seakan-akan suaminya melihat langsung kepada wanita tersebut " HR. Bukhari no 5240.

Mensifati dengan perantara gambar lebih mengena dari pada mensifati dengan sifat-sifatnya. Dengan dasar ini disimpulkan bahwa perkara laki-laki memandang wanita di majalah, koran dan televisi diragukan kebolehannya. Dan menjauhi perantara fitnah itu lebih didahulukan. 

sumber :
رابط المادة: http://iswy.co/e3tbi

Thanks for reading & sharing Sajian Guru Blogger

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa tinggalin komentar terbaik Anda^_^

Cari Info

Ikuti Info Terbaru

Powered by Blogger.
  • ()
  • ()
Show more

Labels

Total Tayangan

Post Populer

Ikuti Blog Ini