Home » » Kandungan Surat al-Ashr dan Tanda Manusia Beruntung Dunia Akhirat

Kandungan Surat al-Ashr dan Tanda Manusia Beruntung Dunia Akhirat

Surat al-Ashr (waktu)  وَالْعَصْرِ "Demi masa." (1)  إِنَّ الْإِنْسٰنَ لَفِى خُسْرٍ "Sungguh, manusia berada dalam kerugian," (2)  إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ "kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (3)  Surat ini termasuk surat Makkiyyah. Qatadah mengatakan bahwa surat ini termasuk surat madaniyah. Surat al-Ashr terdiri dari tiga ayat.  * Penjelasan ayat ke -1  Perkara pertama : Untuk kata al-Ashr ada beberapa pendapat dari para ulama ahli tafsir diantaranya :  Ke-1: Ibnu Abbas dan selainnya mengatakan bahwa kata al-Ashr bermakna ad-Dahr artinya masa. Allah ta'ala bersumpah dengan masa yang mengandung peringatan tentang perubahan keadaan dan pergantian situasi. Dengan itu menunjukan ada sang Pencipta di dalamnya.  Ke-2: Humaid Bin Tsaur mengatakan bahwa al-Ashr maknanya siang dan malam. Ia juga berpendapat ke makna lain yaitu pagi dan petang.   Ke-3: Hasan dan Qatadah mengatakan bahwa makna " al-Ashr " artinya sore hari, yaitu terjadi antara matahari tergelincir ke arah barat dan matahari terbenam. Qatadah menambahkan makna lain yaitu akhir waktu siang hari.  ke-4: Muqathil mengatakan bahwa " al-Ashr " adalah bagian dari shalat ashar, yaitu shalat al-Wustha karena shalat tersebut ialah shalat yang paling utama.  ke-5: Ada yang mengatakan pula bahwa " al-Ashr " yaitu azan untuk shalat ashr. Dikatakan pada berita yang benar bahwa shalat wustha adalah shalat asar. Dan perkara ini sudah dijelaskan pada surat al-Baqarah.  ke-6: Ada juga yang mengatakan bahwa " al-Ashr " itu bagian masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam karena keutamaannya dalam memperbaiki kenabian di dalamnya.  ke-7 : bahwa al-Ashr disebut juga dengan pemilik al-Ashr.  Perkara kedua : Malik berkata : " Barang siapa yang bersumpah tidak akan mengajak bicara dengan seseorang dalam satu waktu, maka ia tidak akan mengajak bicara dengannya selama setahun ". Ibnul Araby menjelaskan bahwa yang dimaksud darinya ialah bahwa Malik membawa sumpah orang yang bersumpah tidak berbicara dengan seseorang selama satu tahun karena itu lebih banyak dari sekedar yang diucapkannya. Dan yang demikian itu asalnya menegaskan makna sebuah sumpah.  * Penjelasan ayat ke -2  " Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian " adalah ayat jawaban dari ayat sumpah yang pertama. Dan yang dimkasud dengan 'manusia' disini ialah orang kafir, demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas pada riwayat Abu Shalih. Dan ad-Dhahak meriwayatkan darinya, ia mengatakan bahwa kata 'manusia' yang dimaksud adalah sekumpulan orang musyrik.Diantara orang kafir tersebut ialah Walid bin Mughirah, al-Ash bin Wail, Aswad bin Abdul Muthallib bin Asad bin al-Uzza dan al-Aswad bin Abdu Yaghuts.  Ada yang mengatakan bahwa kata 'manusia' ialah semua jenis manusia. Adapun makna dari ' benar-benar dalam kerugian ' ialah benar-benar dalam kesalahan atau kerusakan. al-Akhfasy mengatakan : manusia benar-benar berada dalam kebinasaan. Sedangkan al-Farra mengatakan : bahwa manusia berada dalam bencana. Ibnu Zaid mengatakan bahwa manusia berada pada keburukan. Ada juga yang mengatakan bahwa manusia berada pada kekurangan.  Semua makna " benar-benar dalam kerugian " saling berdekatan satu sama lain. Tentang kata ' al-Ashri ' telah diriwayatkan dari Salam bahwa kata ' al-Ashr ' dengan menggunakan shod berkasrah. Sedangkan al-A'raj, Thalhah, Isa as-Saqafi untuk kata  " Khusr " dibaca dhommah, maka menjadi Khusrun. Dan pendapat tersebut telah diriwayatkan oleh Harun dari Abu Bakr dari Ashim. Kedua pandangan itu bisa mengikuti dalil.  Ibrahim mengatakan bahwa manusia apabila ia hidup di dunia, lalu ia menjadi lemah maka ia benar-benar berada dalam kekurangan, kelemahan dan menyusut melainkan orang-orang beriman. Karena sesungguhny mereka ditulis pahala mereka yang mereka perbuat di masa mudanya. Dan yang semisal dengan pengertian ini terdapat pada ayat " Suunguh-sungguh Kami ciptakan manusia dalam keadaan yang sempurna, kemudian Kami kembalikan ke tempat se rendah-rendahnya ".  Adapun bacaan " Wal Ashri innal insana lafi khusrin wa innahu fii akhirid dahri " tidak benar sesuai dengan bacaan umat Islam secara umum dan tidak sesuai dengan mushaf yang ada. Sudah dijelaskan bantahan terhadap bacaan seperti ini pada awal mula di kitab bagi siapa yang telah menyelisihi mushaf usmani. Dan kalimat seperti itu bukanlah al-quran yang bisa dibaca. Maka silahkan merujuk ke sana.    * Penjelasan ayat ke -3  " Kecuali orang-orang beriman dan beramal shalih serta saling memberi nasehat dalam kebenaran dan kesabaran ".  Ayat ini adalah pengecualian dari kata ' manusia ' yang bermakna seluruh manusia menurut pendapat yang benar. Adapun maksud dari ' Dan beramal shalih ' bahwa mereka itu melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada mereka. Mereka itu adalah shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.   Ubay bin Ka'ab berkata : Aku pernah membacakan ayat 'al-Ashr' kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu aku bertanya kepadanya : " Bagaimana penjelasannya wahai Nabi Allah  ? ia bersabda : ' wal  ashri' itu adalah sumpah dari Allah, Tuhan kalian telah bersumpah dengan akhir siang, adapun ' Innal insana lafii khusrin ' dia adalah Abu Jahal, dan ' illalladzi amanuu ' adalah Abu Bakar dan ' Wa amilus shalihat ' adalah Umar dan ' Wa tawashaubil hakki ' adalah Usman dan ' Wa tawashaubis Shabri ' adalah Ali semoga Allah meridhai mereka semua.   Dan inilah yang dikhutbahkan oleh Ibnu Abbas saat di mimbar yang diteruskan kepada Ubay tentang penjelasan surat ini. Dan dari Ibnu Abbas bahwa ' Wa tawashau ' artinya mereka saling mencintai dengan memberi nasehat satu dengan yang lainnya serta memberi motivasi satu sama lain dalam ketauhidan. Demikianlah yang diriwayatkan oleh ad-Dhahak dari Ibnu Abbas.   Qatadah mengatakan maksud dari ' bil haq ' ialah al-quran. Dan as-Suddi mengatakan bahwa maksud dari 'bil haq' ialah Allah azza wa jalla. Dan mereka saling menasehati dalam kesabaran dalam mentaati Allah dan saling menasehat dalam kesabaran menghadapi maksiat kepada Allah. Allah Maha Tahu.    Sumber : tafsir al-Qurthuby


Surat al-Ashr (waktu)

وَالْعَصْرِ
"Demi masa." (1)

إِنَّ الْإِنْسٰنَ لَفِى خُسْرٍ
"Sungguh, manusia berada dalam kerugian," (2)

إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (3)

Surat ini termasuk surat Makkiyyah. Qatadah mengatakan bahwa surat ini termasuk surat madaniyah. Surat al-Ashr terdiri dari tiga ayat.

* Penjelasan ayat ke -1

" Demi masa "
Perkara pertama :
Untuk kata al-Ashr ada beberapa pendapat dari para ulama ahli tafsir diantaranya :

Ke-1: Ibnu Abbas dan selainnya mengatakan bahwa kata al-Ashr bermakna ad-Dahr artinya masa. Allah ta'ala bersumpah dengan masa yang mengandung peringatan tentang perubahan keadaan dan pergantian situasi. Dengan itu menunjukan ada sang Pencipta di dalamnya.

Ke-2: Humaid Bin Tsaur mengatakan bahwa al-Ashr maknanya siang dan malam. Ia juga berpendapat ke makna lain yaitu pagi dan petang. 

Ke-3: Hasan dan Qatadah mengatakan bahwa makna " al-Ashr " artinya sore hari, yaitu terjadi antara matahari tergelincir ke arah barat dan matahari terbenam. Qatadah menambahkan makna lain yaitu akhir waktu siang hari.

ke-4: Muqathil mengatakan bahwa " al-Ashr " adalah bagian dari shalat ashar, yaitu shalat al-Wustha karena shalat tersebut ialah shalat yang paling utama.

ke-5: Ada yang mengatakan pula bahwa " al-Ashr " yaitu azan untuk shalat ashr. Dikatakan pada berita yang benar bahwa shalat wustha adalah shalat asar. Dan perkara ini sudah dijelaskan pada surat al-Baqarah.

ke-6: Ada juga yang mengatakan bahwa " al-Ashr " itu bagian masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam karena keutamaannya dalam memperbaiki kenabian di dalamnya.

ke-7 : bahwa al-Ashr disebut juga dengan pemilik al-Ashr.

Perkara kedua :
Malik berkata : " Barang siapa yang bersumpah tidak akan mengajak bicara dengan seseorang dalam satu waktu, maka ia tidak akan mengajak bicara dengannya selama setahun ". Ibnul Araby menjelaskan bahwa yang dimaksud darinya ialah bahwa Malik membawa sumpah orang yang bersumpah tidak berbicara dengan seseorang selama satu tahun karena itu lebih banyak dari sekedar yang diucapkannya. Dan yang demikian itu asalnya menegaskan makna sebuah sumpah.

* Penjelasan ayat ke -2

" Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian " adalah ayat jawaban dari ayat sumpah yang pertama. Dan yang dimkasud dengan 'manusia' disini ialah orang kafir, demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas pada riwayat Abu Shalih. Dan ad-Dhahak meriwayatkan darinya, ia mengatakan bahwa kata 'manusia' yang dimaksud adalah sekumpulan orang musyrik.Diantara orang kafir tersebut ialah Walid bin Mughirah, al-Ash bin Wail, Aswad bin Abdul Muthallib bin Asad bin al-Uzza dan al-Aswad bin Abdu Yaghuts.

Ada yang mengatakan bahwa kata 'manusia' ialah semua jenis manusia. Adapun makna dari ' benar-benar dalam kerugian ' ialah benar-benar dalam kesalahan atau kerusakan. al-Akhfasy mengatakan : manusia benar-benar berada dalam kebinasaan. Sedangkan al-Farra mengatakan : bahwa manusia berada dalam bencana. Ibnu Zaid mengatakan bahwa manusia berada pada keburukan. Ada juga yang mengatakan bahwa manusia berada pada kekurangan.

Semua makna " benar-benar dalam kerugian " saling berdekatan satu sama lain. Tentang kata ' al-Ashri ' telah diriwayatkan dari Salam bahwa kata ' al-Ashr ' dengan menggunakan shod berkasrah. Sedangkan al-A'raj, Thalhah, Isa as-Saqafi untuk kata  " Khusr " dibaca dhommah, maka menjadi Khusrun. Dan pendapat tersebut telah diriwayatkan oleh Harun dari Abu Bakr dari Ashim. Kedua pandangan itu bisa mengikuti dalil.

Ibrahim mengatakan bahwa manusia apabila ia hidup di dunia, lalu ia menjadi lemah maka ia benar-benar berada dalam kekurangan, kelemahan dan menyusut melainkan orang-orang beriman. Karena sesungguhny mereka ditulis pahala mereka yang mereka perbuat di masa mudanya. Dan yang semisal dengan pengertian ini terdapat pada ayat " Suunguh-sungguh Kami ciptakan manusia dalam keadaan yang sempurna, kemudian Kami kembalikan ke tempat se rendah-rendahnya ".

Adapun bacaan " Wal Ashri innal insana lafi khusrin wa innahu fii akhirid dahri " tidak benar sesuai dengan bacaan umat Islam secara umum dan tidak sesuai dengan mushaf yang ada. Sudah dijelaskan bantahan terhadap bacaan seperti ini pada awal mula di kitab bagi siapa yang telah menyelisihi mushaf usmani. Dan kalimat seperti itu bukanlah al-quran yang bisa dibaca. Maka silahkan merujuk ke sana.


* Penjelasan ayat ke -3

" Kecuali orang-orang beriman dan beramal shalih serta saling memberi nasehat dalam kebenaran dan kesabaran ".
Ayat ini adalah pengecualian dari kata ' manusia ' yang bermakna seluruh manusia menurut pendapat yang benar. Adapun maksud dari ' Dan beramal shalih ' bahwa mereka itu melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada mereka. Mereka itu adalah shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ubay bin Ka'ab berkata : Aku pernah membacakan ayat 'al-Ashr' kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu aku bertanya kepadanya : " Bagaimana penjelasannya wahai Nabi Allah  ? ia bersabda : ' wal  ashri' itu adalah sumpah dari Allah, Tuhan kalian telah bersumpah dengan akhir siang, adapun ' Innal insana lafii khusrin ' dia adalah Abu Jahal, dan ' illalladzi amanuu ' adalah Abu Bakar dan ' Wa amilus shalihat ' adalah Umar dan ' Wa tawashaubil hakki ' adalah Usman dan ' Wa tawashaubis Shabri ' adalah Ali semoga Allah meridhai mereka semua.

Dan inilah yang dikhutbahkan oleh Ibnu Abbas saat di mimbar yang diteruskan kepada Ubay tentang penjelasan surat ini. Dan dari Ibnu Abbas bahwa ' Wa tawashau ' artinya mereka saling mencintai dengan memberi nasehat satu dengan yang lainnya serta memberi motivasi satu sama lain dalam ketauhidan. Demikianlah yang diriwayatkan oleh ad-Dhahak dari Ibnu Abbas.

Qatadah mengatakan maksud dari ' bil haq ' ialah al-quran. Dan as-Suddi mengatakan bahwa maksud dari 'bil haq' ialah Allah azza wa jalla. Dan mereka saling menasehati dalam kesabaran dalam mentaati Allah dan saling menasehat dalam kesabaran menghadapi maksiat kepada Allah. Allah Maha Tahu.


Sumber : tafsir al-Qurthuby

Thanks for reading & sharing Sajian Pendidikan Guru

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa tinggalin komentar terbaik Anda^_^

iklan google

pencarian

  • ()
  • ()
Show more