Home » » Kenangan Belajar Di MAIS yang Tak Bisa Dilupakan Begitu Saja

Kenangan Belajar Di MAIS yang Tak Bisa Dilupakan Begitu Saja

MAIS, Apa itu MAIS ? Kenapa GB (GurukuBlogger) ingin mengupas perkara ini. MAIS singkatan dari Ma'had Aly Imam Syafi'i. Di tempat inilah kami para thalabul ilmi menuntut ilmu dien(agama). Para thullab (mahasiswa) datang dari berbagai pelosok daerah dan suku.     MAIS beralamat di jalan sumbawa no 70 Gunung Simping, Cilacap Jawa Tengah.  Sekolah tinggi agama ini tempat tidak jauh dengan terminal Cilacap. Dengan kapasitas mahasantri yang terbatas sekitar 50-60 pertahunnya menjadi ajang pergulatan para calon yang ingin masuk ke sekolah ini. Walaupun dibilang masih swasta, namun sekolah ini sudah mengwisudakan RATUSAN mahasantri.     Kami sebut mahasantri karena hampir kehidupan di MAIS dipondokkan seperti pesantren pada umumnya. Jurusan yang ditempuh di sekolah ini seputar bahasa arab dan syariat. Dosen-dosennya alumni dari LIPIA Jakarta dan Lulusan luar negri. Para dosen kami sudah berdedikasi tinggi dalam keilmuannya. Jadi sudah sangat layak untuk berkiprah di dunia pendidikan tingkat perguruan tinggi.    Ma'had Ali Imam  Syafi'i sejak kami belajar tidaklah seluas seperti sekarang ini. Kami merupakan alumni tahun 2006 yang pada saat itu bangunan gedung MAIS masih tergolong sederhana. Sedikit banyaknya kami merasakan getirnya belajar ilmu agama ini. Dengan tantangan materi serba dihafal menunjukkan bahwa materi yang disampaikan sangat berbeda jauh dengan fakultas kejuruan bahasa arab perguruan tinggi umum.    Semua isi bukunya berbahasa arab. Bahkan artinya pun menggunakan bahasa arab. Anda yang ingin tuntas bahasa arabnya, kami sarankan ke MAIS tempat dulu kami belajar. Dengan situasi saat itu hampir semua mahasantrinya tak kenal lelah dengan membaca kitab-kitab. Ada diantara mereka yang tumpuannya dengan hafalan dan ada yang tumpuannya dengan pemahaman. Semua itu tergantung pada kemampuan mahasantri masing-masing.    * Kehidupan Sehari-Sehari Jika Anda ada datang ke Cilacap, tidak ada salahnya mampir dulu ke lingkungan kampus MAIS ini. Kunjungan Anda dapat menjalin hubungan dengan mahasantri di sana. Baik hanya sekedar shalat berjamaah di sana. Insya Allah, para mahasantri MAIS terbuka dengan lapang dada atas kedatangan Anda.    Kehidupan sehari-hari kami tak jauh berbeda dengan kehidupan di pesantren pada umumnya. Hanya saja kami sekelas dengan kuliah mahasiswa. Kami diddidik layaknya sebuah pesantren yang lengkap dengan aturan hidup di sebuah komplek. Mungkin bagi mahasantri yang tak terbiasa dengan kehidupan pesantren akan terasa terkejut. Namun itu hanyalah ujian belaka yang akan dihadapi oleh masing-masing mahasantrinya.    Shalat berjamaah, membaca al-quran, halaqah, berdiskusi, makan bersama, berolah raga, mencuci baju, mengajar TPQ , menjadi imam, muazin dan menjadi khatib jumat adalah menu kami dalam sehari-hari. Para mahasantri tidak luput dari membaca dan meringkas kitab yang dibacanya. Lebih-lebih jika 1 bulan hampir ujian, maka masjid " Baitur Rahim " menjadi alternatif utama kami menghafal dan meringkas kitab-kitab (muqarrar).    * Tiap Jumat Setiap hari jumat adalah hari libur kami. Sebuah hari libur layaknya pesantren pada umumnya. Dihari ini mahasantri tidak ingin melewatkan hari liburnya walaupun dengan berlari ke laut Cilacap di pagi hari. Sudah tentu pagi hari tak ada orang alias sepi hanya kami yang ada di tempat tersebut. Ada juga yang meluangkan waktunya untuk berolah raga seperti bermain bola. Disinialah juga tempat kami melepaskan kepenatan dalam belajar.    Kami bisa meluangkan olah raga hanya sekali dalam seminggu  , yaitu di hari jumat. Olah raga dihari jumat bagi kami memiliki kesan tersendiri. Karena olah raga pada hari tersebut tidak banyak orang pergi ke lapangan. Jadi biasanya lapangan bolanya hanya kami yang bermain.    * Sebelum Subuh dan Sesudahnya Setingkat kuliah yang rata-rata sudah dewasa, tidak seperti di pesantren pada umumnya. Mereka masih tetap saja dibangunkan oleh pengasuhnya. Namun kami berbeda dengan mereka. Kami kebanyakn tumbuh dengan kemandirian. Tidak bergantung dengan lain, khususnya soal belajar dan aktivitas bangun malam.    Sebelum subuh mahasantri membiasakan bangun sebelum subuh. Dengan harapan hafalan terjaga dan menambah hafalan baru. Atau juga melakukan aktivitas lain yang bermanfaat.    Adapun ba'da subuh akivitas hafalan al-quran menjadi rutinitas dalam sehari-hari. Waktu-waktu di sinilah adalah waktu yang pas buat kami menghafal al-Quran. Hafalan al-Quran berlangsung hingga hampir terbit matahari. Aktivitas hafalan terus digalakkan selama belajar di MAIS.    *Membentuk Sebuah Keluarga Walaupun mahasantri berasal dari berbagai pelosok daerah. Kami tercipta kondisi seperti keluarga. Satu sama lain memiliki hubungan yang erat. Sekalipun baru berjumpa 1-2 minggu. Kondisi semacam ini kami rasakan sekali saat menimba ilmu di sana. Berbeda suku, ras , warna kulit namun kami dalam satu ikatan akidah yang sama. Tiap kali ada permasalahan tidak terlepas dari diskusi-diskusi.    Diskusi dan obrolan ringan untuk sekedar meraih ketenangan batin terus ada. Guyon dan candaan antar kami yang jauh dari menyakiti hati teman terus hidup sepanjang di sana. Rencana dan konsep juga tak luput dari diskusi hangat kami. Semua itu menjadi kenangan yang masih membekas pada diri ini.    * Tempe Mendoan Pavorit Kami Ya. Inilah yang tak luput dan tak hilang dari ingatan kami. Siapa saja yang pernah menikmati hidup di MAIS akan mencicipi jenis makanan ini. MENDOAN itu gorengan tempe yang dibalur dengam tepung dan digoreng tidak sampai kering, tapi masih terlihat minyaknya.    Singkatnya TEMPE MENDOAN itu tempe bertepung yang digoreng dan diangkat masih basah dengan minyak. Sekilas bagi pertama kali melihat mungkin tak berminat. Karena digoreng tak seperti biasa di daerah lainnya. Khususnya daerah luar Jawa. Tapi setelah dicicipi lama kelamaan Anda akan ketagihan. Mau coba, saat mampir ke Cilacap , mampirlah ke terminalnya. Jika dari jalan sumbawa menyebrang sedikit. Penjualnys berada di sebelan kanan jalan terminal Cilacap.    TEMPE MENDOAN menjadi makanan pavorit. Pokokya lezat lah. Kalau sekali makan satu, maka akan nyantap sekali lagi. Terus-menerus tak habis-habis dan tak bosan-bosan.    *Ronda Malam Hari Wah ini juga tak luput dari ingatan kami para alumni. Ronda malam menjaga MAIS beserta penghuninya adalah tugas utama dalam perbulannya. Tiap dari kami mendapat giliran sekitar sebulan sekali. Tergantung jumlah mahasantrinya. Semakin banyak, berarti semakin lama mendapat giliran. Ronda malam dimulai dari jam 23.00-04.00( seingat saya).    Nah saat ini juga TEMPE MENDOAN tak luput dari santapan malam kami. Kayaknya ini saja deh makanan paforitnya. Sebagian dari kami ada memanfaatkan ronda malam dengan murojaah al-quran. Di keheningan malam adalah waktu yang tepat untuk murojaah. Selama ronda dalam yang menjaga ada dua mahasantri. Selama dua jam akan diganti oleh kelompok jaga berikutnya. Demikian seterusnya hingga pukul 04.00.    *Belajar Di Kelas Belajar di kelas salah satu inti dari kegitan kami di MAIS. Karena di waktu ini tiap mahasantri fokus menyimak penjelasan masing-masing dosen. Para mahasatri tak ingin ketinggalan pemahaman selama di kelas.    Tak sedikit dari kami yang mencoba bertanya tentang yang belum dipahami. Kemudian para dosenpun menjawab dengan jawaban berbeda. Ada yang menjelaskan secara luas dengan macam dalil dan ada yang menjawab cukup dengan isyarat baik gerakan atau dengan jawaban diam. Semua jawaban demikian sering kami dapati di sini.    Kami hanya tersenyum jika diberi jawaban isyarat. Begitulah kami belajar di kelas. Banyak bertanya dan banyak berdiskusi. Ada saatnya kami tersenyum, kami diam, kami tertawa suara lirih. Tapi kami banyak senyum dan diam karena menyimak pelajaran di kelas.    Belajar di kelas dimulai jam 07.00-12.00 sebelum azan zuhur. Kelas belajar berdempetan dengan ruang istirahat para mahasantri. Jadi kelas belajar tidak jauh. Hampir semua dosen menerapkan disiplin masuk kelas. Hampir tak pernah dari mereka para dosen yang pernah tak hadir. Sedetik telat akan dianggap ghaib (alpa).    Itulah pendidikan disini. Tak luput dari kedisiplinan. Cukup dengan tak masuk nama ke dalam absen, besoknya tak akan diulangi selamanya. Selama belajar masing-masing dari mahasantri siap siaga menyambut kedatangan dosen. Metode yang diterapkan sejak kami masuk kelas demikian adanya. Kedisplinan masuk kelas berlangsung hingga tamat sekolah.    Perjuangan di kelas untuk memahami makul(mata kuliah) yang diajarkan dilakukan oleh para mahasantri. Perjuangan menahan rasa kantuk, perjuangan mamahami maksud dari penjelasan dosen. Mahasantri yang kurang paham (karena belum mahir arab) penjelasan dosennya biasanya bertanya kepada temannya setelah keluar dari kelas.    Bahkan pernah pada generasi kami ada yang belum bisa membaca al-quran sama sekali. Walaupun begitu kemampuannya, ia tetao bersikukuh menetap di MAIS dengan banyak cobaan. Dari tidak paham maksud kitab maupun penjelasan. Dari situlah ia berjuang mengalahkan kebodohannya demi mengikuti makul yang ada. Beginilah perjuangan para mahasantri di sana. Tak akan berhenti walaupun badai menerjang.    Di sekolah ini dengan penerapan gaya disiplin mampu membuat mahasantrinya bisa berbahasa arab dalam waktu 3 bulan. Metode yang disampaikan para dosennya sungguh mengagumkan. Ketepatan dalam penyampaian membuat mereka terarah menuju keberhasilan bahasa arab.    Dalam satu semester pertama digenjot untuk bisa berbahasa arab secara tulis dan lisan. Alhamdulillah mereka hampir semua mampu melakukannya. Sekalipun mereka berasal dari berbagai kemampuan masing-masing. Tidak semua yang belajar di sekolah ini sudah bisa bahasa arab. Ada diantara mereka yang belum bisa membaca alquran. Dan ada juga yang sudah sarjana umum. Tak bisa bahasa arab.    Namun itu tak menjadi alasan tak bisa berbahasa arab. Kami melihat mereka gigih bertanya, mengkaji, meringkas dan menghafal. Aktivitas ini sudah menjadi kebiasaan para mahasantri terutama yang belum bisa bahasa arab. Itulah yang kami lihat selama belajar di sana.    *Mata Kuliah Mata pelajaran atau mata kuliah yang kami pelajari meliputi hifzul quran, kitabah, tadzribat, fikih, tafsirul quran, sirah nabawiyah, hifzul hadits, musthalahul hadits, sharaf, nahwu, akidah Dan ushul dakwah. Masing-masing dari mapel di atas memiliki muqarrar (buku paket) sesuai tingkatan. Kesulitan kalimat juga disesuaikan dengan tingkatan mahasantrinya.    *Kajian Ba'da Maghrib Pengajian ba'da maghrib diisi oleh masing-masing dosen. Kitab yang diajarkan tidak seperti yang diajarkan di kelas. Waktu itu yang mengisi kajian ba'ada maghrib , diantaranya ust Izzudin Lc, Ust Endang Lc, ust Muhdhari Lc, ust. Fadhilah Lc dan ust. Asmuji Lc. Kitab-kitab yang dikaji ba'da maghrib seperti Ta'lim Muta'allim, Hilyah Thalabul Ilmi, Sifat Shalat Nabi, Kasyfus Syubhat dan Tahsin.    Para mahasantri berkumpul mengerumuni dosennya yang sedang menjelaskan maksud isi kitab tersebut. Ada diantara para dosen kami yang meminta membacakan isi kitab lalu beliau menterjemahkan dan menjelaskan. Hampir semua yang dijelaskan oleh asatidz kami masih membekas di hati kami masing-masing. Dan masih membekasnya cara mereka menyampaikan materi dengan lugas dan mudah dipahami.    Walaupun nama sekolah ' Ma'ahad Aly Imam Syafi'i' terkesan hanya bermazhab as-syafi'i namun isi di dalam penjelasan mereka tidak terpaku pada satu mazhab. Kami semua diberikan keluasan dalam mengambil pendapat yang kuat dari beberapa mazhab. Saya sendiri sangat senang dengan MAIS karena metode penyampaiannya tidak tertuju dengan satu pemikiran mazhab fikih. Namun kalau perkara akidah kami hanya satu.    *Ruqyah Awal saya dan teman-teman mengenal rukyah di sekolah ini. Meskipun diantara teman kami yang sudah lama mengenal ruqyah. Tapi ini sungguh menggetarkan hati saat baru mendengar suara orang yang kesurupan diruqyah dengan ayat. Hampir-hampir kami tak bisa tidur setelah mendengarnya di malam hari.    Seringnya kami melihat orang datang untuk diruqyah pada akhirnya bisa belajar meruqyah terutama untuk diri sendiri. Ada pasien yang datang ke MAIS yang terkena sihir, ia harus menjalani ruqyah selama 40 hari. Kenapa bisa begitu yah..? itu pikiran kami para mahasantri yang baru tahu kejadian tersebut.    Ada juga pasien yang datang dari kos-kosan luar. Ia yang terkena kesurupan. Sedangkan kawannya tidak. Dan membuat kami terkejut-kejut, jin yang ada di dalam pasien ini bisa berbahasa luar negri. Dan yang saya ingat ia menggunakan bahasa Malasyia. Lucu dan geli dengarnya jin ternyata bisa berbahasa manusia. Itu dulu waktu masih-masih awam soal kesurupan.    Ada sebuah kejadian diluar MAIS yang terkena kesurupan. Tempatnya didekat terminal Cilacap. Diantara keluarganya ada yang datang meminta bantuan kepada kami untuk meruqyahnya. Biasanya yang meruqyah adalah mudir kami selalu. Kami-kami biasanya cuma nonton. Namun pada kesempatan ini, kamilah yang maju. Dengan membawa beberapa teman yang seangkatan. Para mahasantri datang menuju lokasi tersebut. Eh..sebelum kami masuk ke rumah pasien, dengan izin Allah pasien mendadak siuman. Wah...tidak tahu kenapa mendadak sehat pasiennya.    *Mangga Madu Depan Masjid MAIS Ini dia mangganya. Buah yang manis lagi besar-besar. Kami hanya sering melihat mangga ini besar-besar di depan masjid MAIS. Cuma lihat tak berani mengambil alias segan. Malu-malu hingga ada yang mengizinkan untuk mengambil. Mangga madu ini biasanya kami nikmati saat berbuka puasa di bulan ramadhan. Satu mahasantri dijatah satu-dua mangga. Sesuai jumlah mangga yang dipetik. Namun sudah tak ada lagi.    *Mengajar di TPQ Asyiknya mengajar di TPQ. TPQ singkatan dari taman pendidikan quran. Mengajar di TPQ sungguh menyenangkan walaupun jarak yang ditempuh cukup jauh. Tapi kami menikmatinya. Mengajar di TPQ saat berada di mustawa tsani (semester 3 & 4). Tugas tambahan ini tidaklah menjadi beban kami tapi malah menjadi kesenangan sendiri. Bagaimana tidak senang, tiap kali mengajar jumpa dengan anak kecil yang selalu ceria.    Mengajar TPQ dimulai setelah asar hingga menjelang maghrib. Masing-masing dari kami diberi tempat yang berbeda. Ada yang mendapat tempat yang dekat dan ada yang jauh. Yang lebih asyiknya lagi untuk pergi ke tempat tujuan menggunakan sepeda dayung. Itu sepeda sebagian diberi dari jamaah pengajian.    Mendayung sepeda sudah menjadi aktivitas sehari-hari selama 2 semester untuk menempuh perjalanan menuju tempat tertentu. Hari-hari mengajar hanya dengan sepeda dayung. Biasanya selesai dari mengajar antar kami bercerita tentang kondisi dan situasi tempat dimana kami mengajar. Bincang-bincang ringan disertai dengan senyuman dan tawa ringan saat membicarakan bocah-bocah TPQ.    Pernah sesekali kami mendiskusikan bagaimana membuat kurikulum untuk TPQ. Namun hasilnya kandas disebabkan kurangnya kami dalam pengetahuan dan sedikitnya waktu untuk mencurahkan segala pikiran untuk ke TPQ. Mengajar bocah-bocah TPQ merupakan bagian kecil dari aktivitas kami selama di ma'had.    *Masa Ujian Semester Ujian semester merupakan hal yang utama bagi kami untuk melanjutkan ke jenjang semester berikutnya. Semua mahasantri bersiap-siap menghadapi ujian dengan meningkat trafik belajarnya. Sampai-sampai (agak geli sih) yang memasang info disamping tempat ia belajar " maaf saya sedang belajar". Itu artinya tidak boleh berbincang-bincang dengannya selama ia duduk di tempat tersebut.    Semua fokus menghadapi ujian. Mereka sungguh tekun belajar dari menghafal, meringkas, murojaah sampai tak terlihat dari mereka kecuali memegang muqarrar (buku paket) ke mana-mana. Suasana yang sangat berbeda dari biasanya. Suasana menjelang ujian semester berubah secara drastis. Seperti ada kejadian yang sangat besar.    *Menunggu Masa Penantian Terakhir, yaitu Pengabdian Bagi yang sudah menginjak semester 6 menandakan bahwa masa belajar di MAIS akan berakahir. Mereka di semester ini biasanya akan bertanya-tanya pada diri sendiri. "Ke mana ya tempat pengabdian saya ". Mungkin pikiran ini terpintas di benak para mahasantri yang sudah di posisi semester 6.    Setelah ujian semester 6 mereka baru menunggu informasi tempat pengabdiannya. Untuk semester 6 yang baru selesai ujian tidak ada yang pulang kampung. Mahasantri semester 6 diwajibkan menginap di ma'had hingga waktu tiba keberangkatan ke tempat pengabdiannya. Disinilah momen masak sendiri.    Pada waktu inilah para mahasantri belajar mengolah makanan mentah menjadi makanan matang. Dengan ini terbentuklah beberapa kelompok masak yang terdiri dari 5-6 orang. Salah satu dari mereka ada yang menjadi koki dan ada yang bertugas membeli bahan makanannya di pasar. Adapun kelompok lain mesti makan hasil masakan kelompok tertentu yang bertugas. Apapun rasanya yang penting sehat mas...    Inilah akhir-akhir kami tinggal di ma'had yang tercinta ini. Tak banyak aktivitas seperti biasanya melainkan diskusi-diskusi kecil sambil mempersiapkan mental selama di tempat pengabdian. Tempat pengabdian jarak jauh ada di Aceh, Irian Jaya, Kalimantan, Sumatra dan Sulawesi. Karena kami harus menyebrang lautan yang luas.    Selang 2 minggu akhirnya surat pengabdian diumumkan oleh mudir ma'had. Beliau memberikan tausiyah kepada kami sebelum berangkat menuju ke medan dakwah. Yang pastinya kebanyakan kami belum pernah menjamah tempat tersebut.     Tiket pesawat, tiket kapal laut, tiket bus segera di pesan. Karena surat keputusan mengabdi sudah ada ditangan kami masing-masing. Ada yang kegunung kidul, ada yang ke Aceh, Irian Jaya, Lombok, Jakarta, Medan, Bekasi dan kota-kota lainnya. Dengan adanya surat tersebut menandakan perpisahan dengan teman-teman selama setahun di tempat pengabdian. Beliau memberi isyarat tidak boleh pulang dari tempat mengabdi sebelum setahun penuh.    Ma'as salam ma'had kami. Nah iru sekelumit cerita yang bisa anan goreskan di sini. Sukron kasiran sudah membaca cerita ini hingga akhir.

MAIS, Apa itu MAIS ? Kenapa GB (GurukuBlogger) ingin mengupas perkara ini. MAIS singkatan dari Ma'had Aly Imam Syafi'i. Di tempat inilah kami para thalabul ilmi menuntut ilmu dien(agama). Para thullab (mahasiswa) datang dari berbagai pelosok daerah dan suku. 

MAIS beralamat di jalan sumbawa no 70 Gunung Simping, Cilacap Jawa Tengah.  Sekolah tinggi agama ini tempat tidak jauh dengan terminal Cilacap. Dengan kapasitas mahasantri yang terbatas sekitar 50-60 pertahunnya menjadi ajang pergulatan para calon yang ingin masuk ke sekolah ini. Walaupun dibilang masih swasta, namun sekolah ini sudah mengwisudakan RATUSAN mahasantri. 

Kami sebut mahasantri karena hampir kehidupan di MAIS dipondokkan seperti pesantren pada umumnya. Jurusan yang ditempuh di sekolah ini seputar bahasa arab dan syariat. Dosen-dosennya alumni dari LIPIA Jakarta dan Lulusan luar negri. Para dosen kami sudah berdedikasi tinggi dalam keilmuannya. Jadi sudah sangat layak untuk berkiprah di dunia pendidikan tingkat perguruan tinggi.

Ma'had Ali Imam  Syafi'i sejak kami belajar tidaklah seluas seperti sekarang ini. Kami merupakan alumni tahun 2006 yang pada saat itu bangunan gedung MAIS masih tergolong sederhana. Sedikit banyaknya kami merasakan getirnya belajar ilmu agama ini. Dengan tantangan materi serba dihafal menunjukkan bahwa materi yang disampaikan sangat berbeda jauh dengan fakultas kejuruan bahasa arab perguruan tinggi umum.

Semua isi bukunya berbahasa arab. Bahkan artinya pun menggunakan bahasa arab. Anda yang ingin tuntas bahasa arabnya, kami sarankan ke MAIS tempat dulu kami belajar. Dengan situasi saat itu hampir semua mahasantrinya tak kenal lelah dengan membaca kitab-kitab. Ada diantara mereka yang tumpuannya dengan hafalan dan ada yang tumpuannya dengan pemahaman. Semua itu tergantung pada kemampuan mahasantri masing-masing.

* Kehidupan Sehari-Sehari

Jika Anda ada datang ke Cilacap, tidak ada salahnya mampir dulu ke lingkungan kampus MAIS ini. Kunjungan Anda dapat menjalin hubungan dengan mahasantri di sana. Baik hanya sekedar shalat berjamaah di sana. Insya Allah, para mahasantri MAIS terbuka dengan lapang dada atas kedatangan Anda.

Kehidupan sehari-hari kami tak jauh berbeda dengan kehidupan di pesantren pada umumnya. Hanya saja kami sekelas dengan kuliah mahasiswa. Kami diddidik layaknya sebuah pesantren yang lengkap dengan aturan hidup di sebuah komplek. Mungkin bagi mahasantri yang tak terbiasa dengan kehidupan pesantren akan terasa terkejut. Namun itu hanyalah ujian belaka yang akan dihadapi oleh masing-masing mahasantrinya.

Shalat berjamaah, membaca al-quran, halaqah, berdiskusi, makan bersama, berolah raga, mencuci baju, mengajar TPQ , menjadi imam, muazin dan menjadi khatib jumat adalah menu kami dalam sehari-hari. Para mahasantri tidak luput dari membaca dan meringkas kitab yang dibacanya. Lebih-lebih jika 1 bulan hampir ujian, maka masjid " Baitur Rahim " menjadi alternatif utama kami menghafal dan meringkas kitab-kitab (muqarrar).

* Tiap Jumat

Setiap hari jumat adalah hari libur kami. Sebuah hari libur layaknya pesantren pada umumnya. Dihari ini mahasantri tidak ingin melewatkan hari liburnya walaupun dengan berlari ke laut Cilacap di pagi hari. Sudah tentu pagi hari tak ada orang alias sepi hanya kami yang ada di tempat tersebut. Ada juga yang meluangkan waktunya untuk berolah raga seperti bermain bola. Disinialah juga tempat kami melepaskan kepenatan dalam belajar.

Kami bisa meluangkan olah raga hanya sekali dalam seminggu  , yaitu di hari jumat. Olah raga dihari jumat bagi kami memiliki kesan tersendiri. Karena olah raga pada hari tersebut tidak banyak orang pergi ke lapangan. Jadi biasanya lapangan bolanya hanya kami yang bermain.

* Sebelum Subuh dan Sesudahnya

Setingkat kuliah yang rata-rata sudah dewasa, tidak seperti di pesantren pada umumnya. Mereka masih tetap saja dibangunkan oleh pengasuhnya. Namun kami berbeda dengan mereka. Kami kebanyakn tumbuh dengan kemandirian. Tidak bergantung dengan lain, khususnya soal belajar dan aktivitas bangun malam.

Sebelum subuh mahasantri membiasakan bangun sebelum subuh. Dengan harapan hafalan terjaga dan menambah hafalan baru. Atau juga melakukan aktivitas lain yang bermanfaat.

Adapun ba'da subuh akivitas hafalan al-quran menjadi rutinitas dalam sehari-hari. Waktu-waktu di sinilah adalah waktu yang pas buat kami menghafal al-Quran. Hafalan al-Quran berlangsung hingga hampir terbit matahari. Aktivitas hafalan terus digalakkan selama belajar di MAIS.

*Membentuk Sebuah Keluarga

Walaupun mahasantri berasal dari berbagai pelosok daerah. Kami tercipta kondisi seperti keluarga. Satu sama lain memiliki hubungan yang erat. Sekalipun baru berjumpa 1-2 minggu. Kondisi semacam ini kami rasakan sekali saat menimba ilmu di sana. Berbeda suku, ras , warna kulit namun kami dalam satu ikatan akidah yang sama. Tiap kali ada permasalahan tidak terlepas dari diskusi-diskusi.

Diskusi dan obrolan ringan untuk sekedar meraih ketenangan batin terus ada. Guyon dan candaan antar kami yang jauh dari menyakiti hati teman terus hidup sepanjang di sana. Rencana dan konsep juga tak luput dari diskusi hangat kami. Semua itu menjadi kenangan yang masih membekas pada diri ini.

* Tempe Mendoan Pavorit Kami

Ya. Inilah yang tak luput dan tak hilang dari ingatan kami. Siapa saja yang pernah menikmati hidup di MAIS akan mencicipi jenis makanan ini. MENDOAN itu gorengan tempe yang dibalur dengam tepung dan digoreng tidak sampai kering, tapi masih terlihat minyaknya.

Singkatnya TEMPE MENDOAN itu tempe bertepung yang digoreng dan diangkat masih basah dengan minyak. Sekilas bagi pertama kali melihat mungkin tak berminat. Karena digoreng tak seperti biasa di daerah lainnya. Khususnya daerah luar Jawa. Tapi setelah dicicipi lama kelamaan Anda akan ketagihan. Mau coba, saat mampir ke Cilacap , mampirlah ke terminalnya. Jika dari jalan sumbawa menyebrang sedikit. Penjualnys berada di sebelan kanan jalan terminal Cilacap.

TEMPE MENDOAN menjadi makanan pavorit. Pokokya lezat lah. Kalau sekali makan satu, maka akan nyantap sekali lagi. Terus-menerus tak habis-habis dan tak bosan-bosan.

*Ronda Malam Hari

Wah ini juga tak luput dari ingatan kami para alumni. Ronda malam menjaga MAIS beserta penghuninya adalah tugas utama dalam perbulannya. Tiap dari kami mendapat giliran sekitar sebulan sekali. Tergantung jumlah mahasantrinya. Semakin banyak, berarti semakin lama mendapat giliran. Ronda malam dimulai dari jam 23.00-04.00( seingat saya).

Nah saat ini juga TEMPE MENDOAN tak luput dari santapan malam kami. Kayaknya ini saja deh makanan paforitnya. Sebagian dari kami ada memanfaatkan ronda malam dengan murojaah al-quran. Di keheningan malam adalah waktu yang tepat untuk murojaah. Selama ronda dalam yang menjaga ada dua mahasantri. Selama dua jam akan diganti oleh kelompok jaga berikutnya. Demikian seterusnya hingga pukul 04.00.

*Belajar Di Kelas

Belajar di kelas salah satu inti dari kegitan kami di MAIS. Karena di waktu ini tiap mahasantri fokus menyimak penjelasan masing-masing dosen. Para mahasatri tak ingin ketinggalan pemahaman selama di kelas.

Tak sedikit dari kami yang mencoba bertanya tentang yang belum dipahami. Kemudian para dosenpun menjawab dengan jawaban berbeda. Ada yang menjelaskan secara luas dengan macam dalil dan ada yang menjawab cukup dengan isyarat baik gerakan atau dengan jawaban diam. Semua jawaban demikian sering kami dapati di sini.

Kami hanya tersenyum jika diberi jawaban isyarat. Begitulah kami belajar di kelas. Banyak bertanya dan banyak berdiskusi. Ada saatnya kami tersenyum, kami diam, kami tertawa suara lirih. Tapi kami banyak senyum dan diam karena menyimak pelajaran di kelas.

Belajar di kelas dimulai jam 07.00-12.00 sebelum azan zuhur. Kelas belajar berdempetan dengan ruang istirahat para mahasantri. Jadi kelas belajar tidak jauh. Hampir semua dosen menerapkan disiplin masuk kelas. Hampir tak pernah dari mereka para dosen yang pernah tak hadir. Sedetik telat akan dianggap ghaib (alpa).

Itulah pendidikan disini. Tak luput dari kedisiplinan. Cukup dengan tak masuk nama ke dalam absen, besoknya tak akan diulangi selamanya. Selama belajar masing-masing dari mahasantri siap siaga menyambut kedatangan dosen. Metode yang diterapkan sejak kami masuk kelas demikian adanya. Kedisplinan masuk kelas berlangsung hingga tamat sekolah.

Perjuangan di kelas untuk memahami makul(mata kuliah) yang diajarkan dilakukan oleh para mahasantri. Perjuangan menahan rasa kantuk, perjuangan mamahami maksud dari penjelasan dosen. Mahasantri yang kurang paham (karena belum mahir arab) penjelasan dosennya biasanya bertanya kepada temannya setelah keluar dari kelas.

Bahkan pernah pada generasi kami ada yang belum bisa membaca al-quran sama sekali. Walaupun begitu kemampuannya, ia tetao bersikukuh menetap di MAIS dengan banyak cobaan. Dari tidak paham maksud kitab maupun penjelasan. Dari situlah ia berjuang mengalahkan kebodohannya demi mengikuti makul yang ada. Beginilah perjuangan para mahasantri di sana. Tak akan berhenti walaupun badai menerjang.

Di sekolah ini dengan penerapan gaya disiplin mampu membuat mahasantrinya bisa berbahasa arab dalam waktu 3 bulan. Metode yang disampaikan para dosennya sungguh mengagumkan. Ketepatan dalam penyampaian membuat mereka terarah menuju keberhasilan bahasa arab.

Dalam satu semester pertama digenjot untuk bisa berbahasa arab secara tulis dan lisan. Alhamdulillah mereka hampir semua mampu melakukannya. Sekalipun mereka berasal dari berbagai kemampuan masing-masing. Tidak semua yang belajar di sekolah ini sudah bisa bahasa arab. Ada diantara mereka yang belum bisa membaca alquran. Dan ada juga yang sudah sarjana umum. Tak bisa bahasa arab.

Namun itu tak menjadi alasan tak bisa berbahasa arab. Kami melihat mereka gigih bertanya, mengkaji, meringkas dan menghafal. Aktivitas ini sudah menjadi kebiasaan para mahasantri terutama yang belum bisa bahasa arab. Itulah yang kami lihat selama belajar di sana.

*Mata Kuliah

Mata pelajaran atau mata kuliah yang kami pelajari meliputi hifzul quran, kitabah, tadzribat, fikih, tafsirul quran, sirah nabawiyah, hifzul hadits, musthalahul hadits, sharaf, nahwu, akidah Dan ushul dakwah. Masing-masing dari mapel di atas memiliki muqarrar (buku paket) sesuai tingkatan. Kesulitan kalimat juga disesuaikan dengan tingkatan mahasantrinya.

*Kajian Ba'da Maghrib

Pengajian ba'da maghrib diisi oleh masing-masing dosen. Kitab yang diajarkan tidak seperti yang diajarkan di kelas. Waktu itu yang mengisi kajian ba'ada maghrib , diantaranya ust Izzudin Lc, Ust Endang Lc, ust Muhdhari Lc, ust. Fadhilah Lc dan ust. Asmuji Lc. Kitab-kitab yang dikaji ba'da maghrib seperti Ta'lim Muta'allim, Hilyah Thalabul Ilmi, Sifat Shalat Nabi, Kasyfus Syubhat dan Tahsin.

Para mahasantri berkumpul mengerumuni dosennya yang sedang menjelaskan maksud isi kitab tersebut. Ada diantara para dosen kami yang meminta membacakan isi kitab lalu beliau menterjemahkan dan menjelaskan. Hampir semua yang dijelaskan oleh asatidz kami masih membekas di hati kami masing-masing. Dan masih membekasnya cara mereka menyampaikan materi dengan lugas dan mudah dipahami.

Walaupun nama sekolah ' Ma'ahad Aly Imam Syafi'i' terkesan hanya bermazhab as-syafi'i namun isi di dalam penjelasan mereka tidak terpaku pada satu mazhab. Kami semua diberikan keluasan dalam mengambil pendapat yang kuat dari beberapa mazhab. Saya sendiri sangat senang dengan MAIS karena metode penyampaiannya tidak tertuju dengan satu pemikiran mazhab fikih. Namun kalau perkara akidah kami hanya satu.

*Ruqyah

Awal saya dan teman-teman mengenal rukyah di sekolah ini. Meskipun diantara teman kami yang sudah lama mengenal ruqyah. Tapi ini sungguh menggetarkan hati saat baru mendengar suara orang yang kesurupan diruqyah dengan ayat. Hampir-hampir kami tak bisa tidur setelah mendengarnya di malam hari.

Seringnya kami melihat orang datang untuk diruqyah pada akhirnya bisa belajar meruqyah terutama untuk diri sendiri. Ada pasien yang datang ke MAIS yang terkena sihir, ia harus menjalani ruqyah selama 40 hari. Kenapa bisa begitu yah..? itu pikiran kami para mahasantri yang baru tahu kejadian tersebut.

Ada juga pasien yang datang dari kos-kosan luar. Ia yang terkena kesurupan. Sedangkan kawannya tidak. Dan membuat kami terkejut-kejut, jin yang ada di dalam pasien ini bisa berbahasa luar negri. Dan yang saya ingat ia menggunakan bahasa Malasyia. Lucu dan geli dengarnya jin ternyata bisa berbahasa manusia. Itu dulu waktu masih-masih awam soal kesurupan.

Ada sebuah kejadian diluar MAIS yang terkena kesurupan. Tempatnya didekat terminal Cilacap. Diantara keluarganya ada yang datang meminta bantuan kepada kami untuk meruqyahnya. Biasanya yang meruqyah adalah mudir kami selalu. Kami-kami biasanya cuma nonton. Namun pada kesempatan ini, kamilah yang maju. Dengan membawa beberapa teman yang seangkatan. Para mahasantri datang menuju lokasi tersebut. Eh..sebelum kami masuk ke rumah pasien, dengan izin Allah pasien mendadak siuman. Wah...tidak tahu kenapa mendadak sehat pasiennya.

*Mangga Madu Depan Masjid MAIS

Ini dia mangganya. Buah yang manis lagi besar-besar. Kami hanya sering melihat mangga ini besar-besar di depan masjid MAIS. Cuma lihat tak berani mengambil alias segan. Malu-malu hingga ada yang mengizinkan untuk mengambil. Mangga madu ini biasanya kami nikmati saat berbuka puasa di bulan ramadhan. Satu mahasantri dijatah satu-dua mangga. Sesuai jumlah mangga yang dipetik. Namun sudah tak ada lagi.

*Mengajar di TPQ

Asyiknya mengajar di TPQ. TPQ singkatan dari taman pendidikan quran. Mengajar di TPQ sungguh menyenangkan walaupun jarak yang ditempuh cukup jauh. Tapi kami menikmatinya. Mengajar di TPQ saat berada di mustawa tsani (semester 3 & 4). Tugas tambahan ini tidaklah menjadi beban kami tapi malah menjadi kesenangan sendiri. Bagaimana tidak senang, tiap kali mengajar jumpa dengan anak kecil yang selalu ceria.

Mengajar TPQ dimulai setelah asar hingga menjelang maghrib. Masing-masing dari kami diberi tempat yang berbeda. Ada yang mendapat tempat yang dekat dan ada yang jauh. Yang lebih asyiknya lagi untuk pergi ke tempat tujuan menggunakan sepeda dayung. Itu sepeda sebagian diberi dari jamaah pengajian.

Mendayung sepeda sudah menjadi aktivitas sehari-hari selama 2 semester untuk menempuh perjalanan menuju tempat tertentu. Hari-hari mengajar hanya dengan sepeda dayung. Biasanya selesai dari mengajar antar kami bercerita tentang kondisi dan situasi tempat dimana kami mengajar. Bincang-bincang ringan disertai dengan senyuman dan tawa ringan saat membicarakan bocah-bocah TPQ.

Pernah sesekali kami mendiskusikan bagaimana membuat kurikulum untuk TPQ. Namun hasilnya kandas disebabkan kurangnya kami dalam pengetahuan dan sedikitnya waktu untuk mencurahkan segala pikiran untuk ke TPQ. Mengajar bocah-bocah TPQ merupakan bagian kecil dari aktivitas kami selama di ma'had.

*Masa Ujian Semester

Ujian semester merupakan hal yang utama bagi kami untuk melanjutkan ke jenjang semester berikutnya. Semua mahasantri bersiap-siap menghadapi ujian dengan meningkat trafik belajarnya. Sampai-sampai (agak geli sih) yang memasang info disamping tempat ia belajar " maaf saya sedang belajar". Itu artinya tidak boleh berbincang-bincang dengannya selama ia duduk di tempat tersebut.

Semua fokus menghadapi ujian. Mereka sungguh tekun belajar dari menghafal, meringkas, murojaah sampai tak terlihat dari mereka kecuali memegang muqarrar (buku paket) ke mana-mana. Suasana yang sangat berbeda dari biasanya. Suasana menjelang ujian semester berubah secara drastis. Seperti ada kejadian yang sangat besar.

*Menunggu Masa Penantian Terakhir, yaitu Pengabdian

Bagi yang sudah menginjak semester 6 menandakan bahwa masa belajar di MAIS akan berakahir. Mereka di semester ini biasanya akan bertanya-tanya pada diri sendiri. "Ke mana ya tempat pengabdian saya ". Mungkin pikiran ini terpintas di benak para mahasantri yang sudah di posisi semester 6.

Setelah ujian semester 6 mereka baru menunggu informasi tempat pengabdiannya. Untuk semester 6 yang baru selesai ujian tidak ada yang pulang kampung. Mahasantri semester 6 diwajibkan menginap di ma'had hingga waktu tiba keberangkatan ke tempat pengabdiannya. Disinilah momen masak sendiri.

Pada waktu inilah para mahasantri belajar mengolah makanan mentah menjadi makanan matang. Dengan ini terbentuklah beberapa kelompok masak yang terdiri dari 5-6 orang. Salah satu dari mereka ada yang menjadi koki dan ada yang bertugas membeli bahan makanannya di pasar. Adapun kelompok lain mesti makan hasil masakan kelompok tertentu yang bertugas. Apapun rasanya yang penting sehat mas...

Inilah akhir-akhir kami tinggal di ma'had yang tercinta ini. Tak banyak aktivitas seperti biasanya melainkan diskusi-diskusi kecil sambil mempersiapkan mental selama di tempat pengabdian. Tempat pengabdian jarak jauh ada di Aceh, Irian Jaya, Kalimantan, Sumatra dan Sulawesi. Karena kami harus menyebrang lautan yang luas.

Selang 2 minggu akhirnya surat pengabdian diumumkan oleh mudir ma'had. Beliau memberikan tausiyah kepada kami sebelum berangkat menuju ke medan dakwah. Yang pastinya kebanyakan kami belum pernah menjamah tempat tersebut.

Tiket pesawat, tiket kapal laut, tiket bus segera di pesan. Karena surat keputusan mengabdi sudah ada ditangan kami masing-masing. Ada yang kegunung kidul, ada yang ke Aceh, Irian Jaya, Lombok, Jakarta, Medan, Bekasi dan kota-kota lainnya. Dengan adanya surat tersebut menandakan perpisahan dengan teman-teman selama setahun di tempat pengabdian. Beliau memberi isyarat tidak boleh pulang dari tempat mengabdi sebelum setahun penuh.

Ma'as salam ma'had kami. Nah iru sekelumit cerita yang bisa anan goreskan di sini. Sukron kasiran sudah membaca cerita ini hingga akhir.






Thanks for reading & sharing Sajian Pendidikan Guru

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa tinggalin komentar terbaik Anda^_^

iklan google

pencarian

  • ()
  • ()
Show more