Home » , , » Wajibkah Ada khutbah Setelah Shalat Gerhana ?

Wajibkah Ada khutbah Setelah Shalat Gerhana ?

Khutbah saat gerhana merupakan sunnah rasul


Wajibkah khutbah setelah shalat gerhana, apakah khutbahnya mesti panjang ? Pertanyaan ini mungkin diajukan bagi orang yang bersemangat mengetahui secara pasti hukum khutbah. Karena pada sebagian hadits hanya diceritakan bahwa saat terjadi gerhana yang disuruh ialah bertakbir,istighfar dan bersedekah. Tidak ada perintah jelas tentang khutbah. Hanya saja pada sebagian hadita lain Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan khutbah gerhana.

Jawaban dari permasalahan di atas akan dikupas tuntas oleh para ulama muktabar berikut ini :

Segala pujian hanya milik Allah ta'ala 
Pertama : telah disebutkan bahwa Nabi shallallau 'alaihi wa sallam berkhutbah setelah shalat kusuf (gerhana). Imam Bukhari pada no 1044 dan Muslim no 901 dari Aisyah semoga Allah meridhainya berkata :

 ،  انْصَرَفَ وَقَدْ انْجَلَتْ الشَّمْسُ ، فَخَطَبَ النَّاسَ ، فَحَمِدَ اللَّهَ ، وَأَثْنَى عَلَيْهِ ، ثُمَّ قَالَ : (إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ ، وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا ، وَتَصَدَّقُوا ، ثُمَّ قَالَ : يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ، يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا ، وَلبَكَيْتُمْ كَثِيرًا) . 
" Ketika beliau selesai shalat ,matahari sudah terang-benderang kemudian beliau berkhubah dengan memuji Allah dan menyanjungNya, lalu beliau bersabda : " Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan tanda kebesaran Allah, terjadi gerhana bukan karena adanya kematian seseorang atau hidupnya seseorang, maka jika kalian melihatnya maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah dan bersedekahlah. Kemudian beliau bersabda : Wahai umat Muhammad, demi Allah tidak ada orang yang lebih cemburu dari pada Allah diaat hambaNya berbuat zina atau umatNya berbuat zina, wahai umat Muhammad demi Allah sekiranya kalian mengetahui seperti apa yang saya ketahui maka kalian akan sesikit tertawa dan banyak menangis" 

Dengan hadits ini Jumhur as-Salaf berpendapat sunahnya khutbah setelah shalat gerhana, ini adalah mazhab as-Syafi'i dan salah satu pendapat Imam Ahmad. Imam Nawawi semoga Allah merahmatinya berkata di dalam al-Majmu'(5/59) dari sebuah pendapat tentang sunahnya khutbah setelah shalat : " Dan dengannya dikatakan oleh Jumhur Salaf dan dinukilkan oleh al-Mundzir dari Jumhur.

Syeikh bin Baz semoga Allah merahmatinya berkata : disunahkan khutbah setelah shalat gerhana karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan demikian dan Allah berfirman : " Sungguh ada pada diri  Rasulullah bagi kalian sebuah teladan yang bagus " Dan beliau bersabda : " Barang siapa yang enggan dengan sunahku maka bukan bagian dari golonganku " HR. Bukhari no 5063 dan Muslim no 1401. Syeikh bin Baz melanjutkan perkataannya : Di saat yang demikian itu(khutbah) terdapat maslahat umum bagi orang-orang muslim dan memberikan pemahaman agama kepada mereka maka cukuplah melakukan itu (khutbah) di lapangan setelah shalat ( kitab Majmu' fatawa Ibnu Baz 13/44 ).

Syeikh Ibnu Shalih Utsaimin semoga Allah merahmatinya berpendapat bahwa kesunahan khutbah setelah shalat gerhana adalah benar adanya, dikarenakan saat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selesai shalat gerhana beliau bangkit berdiri lalu memuji Allah dan menyanjungNya, kemudian bersabda : Amma ba'du, lalu beliau memberi nasehat kepada manusia dan ini adalah cara berkhutbah, mereka berkata ini adalah nasehat karena perkara itu memang ada. Kita katakan ya'  sekiranya terjadinya gerhana di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sekali lagi dan beliau tidak berkhutbah maka kita katakan bahwa khutbah setelah shalat tidak disunnahkan, namun gerhana saat itu hanya terjadi sekali dan diiringi dengan khutbah sedangkan beliau dalam posisi berdiri saat menyampaikan khutbah sambil memuji dan menyanjung Allah dan bersabda : amma ba'du, pada perkara khutbah ini terdapat kesesuaian yang kuat untuk perkara mengingatkan orang-orang dan melembutkan hati mereka dan memberi peringatan kepada mereka ataa kejadian yang agung ini (Kitab Syarhul Mumti' 5/188) dan lihat kitab al-Inshaf 2/488 milik al-Mardawi alHanbali.

Sebagian ulama berpendapat sunahnya khutbah dua kali yaitu dengan duduk ringan diantara dua khutbah sebagaimana dilakukan pada saat khutbah jumat. Ini adalah pendapat mazhab syafi'(al-umm : 1/280). Dan jiks dilihat dari kejelasan teksnya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa salam hanya berkhutbah sekali, ini pendapat ini dipilih oleh sebagain ulama Hanbalidan dikuatkan oleh Ibnu Utsaimin (al-inshaf  : 2/448 ) dan ( Syarhul Mumti' 5/188)

Dua imam mazhab yaitu Abu Hanifah dan Ahmad berpendapat dengan yang masyhur bahwa tidak disunahkan khutbah setelah shalat gerhana dan mereka memberi jawaban dari keterangan perbuatan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah setelah shalat guna menjelaskan kepada para shahabat sebagian hukum yang berkaitan dengan shalat gerhana. ( al-mughni : 2/144 )

Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa khutbah setelah shalat gerhana dikategorikan sunnah ,namun tidak seperti tata cara khutbah biasanya. ( Bulghatul Masalik li aqrabil Masalik : 1/350 ). Ibnu Daqiq al-Id semoga Allah merahmatinya memberi komentar atas dua mazhab, ia katakan pada hadits Aisyah yang lalu bahwa teks yang zahir pada hadits menjelaskan bahwa shalat gerhana memiliki khutbah sedangkan Malik dan Abu Hanifah tidak berpendapat demikian.

Sebagian pengikut Malik berkata : (dalam shalat gerhana) tidak ada khutbah, namun hendaknya menghadap jamaah dan memberi peringatan untuk mereka. Ini pernyataan yang berseberangan dengan zahir hadist, lebih lagi dengan isi hadits yang menyatakan bahwa Nabi setelah shalat memulai dengan sanjungan dan pujian kepada Allah.

Dan alasan adanya khutbah yang telah disebutkan yang bersebrangan dengan zahir hadit adalah lemah, contoh perkataan mereka :Sesungguhnya maksud hadits tersebut adalah berita " Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah, keduanya terjadi gerhana bukan karena kematian seseorang atau hidupnya seseorang ". Ini adalah berita untuk membantah terhadap orang yang mengatakan seperti untuk kematian Ibrahim. Terkadang kabar berita bisa menyangkut perihal Surga dan Neraka. Dang demikian itu merupakan pengkhususannya, namun kami melemahkannya karena khutbah tidak terbatas tujuannya pada perkara tertentu setelah didapati maksudnya dari pujian dan sanjungan sera nasehat.

Terkadang juga masalah ini masuk pada tujuannya seperti menyebutkan Surga dan Neraka yang keduanya merupakan tanda kekuasaan Allah bahkan itu juga harus. (kitab Ihkamul Ahkam SyarhuUmdatul Ahkam : 2/352).

Adapun perkara panjang dan pendeknya khutbah setelah shalat gerhana yang disunahkan secara umum adalah dipersingkat khutbahnya. Dengan nasehat yang mengena kepada maksud khutbahnya dalam memberi tausiyah dan memberi peringatan kepada manusia. Dan janganlah membuat mereka bosan dan jangan pula membuat mereka lelah. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
 ( إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ – أي علامة - مِنْ فِقْهِهِ ، فَأَطِيلُوا الصَّلَاةَ ، وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ) رواه مسلم (869) .

" Sesungguhnya panjangnya shalat dan singkatnya khutbah merupakan tanda kepahamannya , maka panjangkanlah shalat dan persingkat khutbahnya " HR.Muslim no 869.

Thanks for reading & sharing Sajian Guru Blogger

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa tinggalin komentar terbaik Anda^_^

Cari Info

Ikuti Info Terbaru

Powered by Blogger.
  • ()
  • ()
Show more

Labels

Total Tayangan

Post Populer

Ikuti Blog Ini